Memerdekakan hati.
-->
Selamat Hari Kemerdekaan. 17 Agustus 2009. 64 tahun negara Republik Indonesia.
Rasanya begitu bangga ketika membuka facebook dan twitter tanggal 17 Agustus kemarin, semua orang mengucapkan kata 'dirgahayu', 'merdeka', atau 'selamat ulang tahun".
Rasanya begitu bangga dan bahagia melihat kita semua bersatu padu merayakan ulang tahun negara kita, walaupun itu di dunia maya, dunia yang disentuh oleh khalayak ramai sekarang ini. tapi, apa boleh buat.. jaman bergerak maju, keeksistensian manusia di dunia maya lebih terasa nyata. dan mungkin justru di dunia nyata inilah, kemerdekaan lebih terdengar gaungnya (apa benar teman-teman yang ada di Indonesia?).
Setidaknya, apa pun medianya, pesan semangat kemerdekaan cukup tersalurkan.. cukup terdengar gaungnya hingga ke negeri-negeri tetangga.
Semangat-semangat yang diteriakkan dengan sangat nyaring kemarin, apakah hanya akan terdengar saat 17 Agustus-an saja? atau akan terus berlangsung selama hayat masih dikandung badan? ;)
Ini yang ditulis oleh salah seorang teman saya (Andrea Fabyan) di profile picture facebooknya :
Jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 milyun ini lebih dahulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita mencapai political independence, saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia merdeka! Di dalam Indonesia merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita! Di dalam Indonesia merdeka itulah kita memerdekakan hatinya bangsa kita!
Sumber: Soekarno, Pidato di BPUPKI, 1 Juni 1945
Dan saya menyetujui apa kata Soekarno. Yang pertama kali harus kita lakukan adalah memerdekakan hati kita masing-masing, sebagai individu, sebagai warga negara Indonesia, sebagai generasi muda yang nantinya akan menjadi tulang punggung pembangunan NKRI.
Kemarin saya melihat sederetan komen dari seseorang berbangsa Malaysia, di sebuah video Youtube. Terjadilah perdebatan panjang antara orang Indonesia dan Malaysia di kolom komen itu. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah bagaimana dia menggarisbawahi kejadian Mei 1998, bagaimana dia menuding bangsa Indonesia sebagai bangsa rasis yang menomorduakan warga keturunan Tionghoa di Indonesia. Mungkin itu ada benarnya. Dan bukankah itu sudah saatnya dijadikan sebuah poin yang bisa dihapuskan dari perjalanan panjang negara Indonesia sebagai negara yang merdeka? Jika memang dulu, kediktatoran seorang pemimpin bangsa yang membuat pemikiran doktrinisasi tentang kedudukan bangsa Tionghoa di RI telah mendarah daging, sudah saatnya didobrak jatuh, sudah saatnya dihapuskan seratus persen.
Itu sudah basi!
Jika sekarang banyak warga Indonesia sudah berimigrasi ke negara lain dan menganggap negara lain lebih baik dari Indonesia, lalu berpindah warga negara, itu namanya tidak merdeka (tapi itu adalah hak asasi manusia, yang tidak bisa diganggu gugat).
Itu yang harus dibangun. Kemerdekaan hati. Kebanggaan menjadi seorang warga Indonesia, kekuatan untuk tetap tinggal untuk membangun bangsa, dan selalu ada di saat bangsa susah maupun senang. Bukankah itu yang menjadikan kita bangsa yang kuat? Negara yang sudah melalui banyak kejadian buruk, namun tetap bertahan dan tegak berdiri untuk mengibarkan merah putih.
Saatnya membusungkan dada. Membahagiakan hati para pahlawan yang sudah bersemayam di pusaranya masing-masing. Membuat ibu pertiwi tersenyum. Dan membuat hati kita bangga sebagai anak bangsa.
Terus tegakkan kepalamu, Indonesia.
Banggalah. Perbaikilah dirimu dengan semangat kemerdekaan. Kita akan terus merdeka dengan merah putih yang menghiasi langit biru Indonesia.
Selamat berusia 64 tahun.
Comments