senyum pagi.

mereka adalah sepasang suami istri, telah lanjut usianya, menikah selama setengah abad lebih, terlalu lama bersama menghabiskan detik demi detik yang tak terhitung banyaknya.

sang suami berjalan tertatih, menghampiri sang istri yang sudah berada di dapur rumah sederhana mereka. dibawakannya selembar pashmina, ia tahu istrinya tak tahan udara pagi yang dingin. semenjak menua, siklus tidur menjadi berkurang. bangun terlalu pagi, dan terlelap terlalu malam, waktu terjaga terlalu panjang hingga kadang jarum jam tak lagi mampu ditunggui.

pintu telah terbuka lebar, aroma rumput yang ditetesi embun menyeruak ke dalam ruangan. sang istri menghirup dalam-dalam, seolah bosan tak pernah merayapi kesukaannya akan pagi hari. semburat langit menunjukkan pesonanya dan dua pasang mata yang telah tua itu memandang jauh ke luar.. merekam langit. tangan bergenggaman erat, dan senyum tersungging.

mereka menunggu.
semenit.
dua menit.
lima menit.
penantian panjang.. hidup yang panjang.. pagi yang panjang.
langit pun benderang.

dan lalu mereka bergerak, pertunjukkan usai, pesona telah berlalu dan berganti dengan terang pagi. cicit burung dan kokok ayam mengiringinya dengan sempurna.

"bu, air panasnya sudah.." sang suami menepuk pelan bahu istrinya. istrinya mengangguk kecil dan bergerak ke arah air yang sudah mendidih. kopi yang takarannya sudah dihafal selama puluhan tahun pun diseduh, semerbak mengisi ruangan, aroma kopi - aroma suaminya. "ini pak, kopinya.." sang suami tersenyum.

senyum pagi yang sudah saling ditukar selama ribuan kali, tetap terasa hangat di hati.


*

senyum pagi ini untukmu, semoga cukup untuk menghangatkan hingga matahari tenggelam.

Comments

Popular Posts