stasiun.

Matanya sayu, bibirnya tipis, pipinya tirus, tapi ia elok. Sweater putihnya robek di bahu, kecil, namun tampak oleh mataku yang menyelidik. Ia duduk di ujung bangku, menelusupkan diri di antara orang-orang lain yang berdiri gelisah menunggu datangnya kereta sore. Ia tidak tampak tergesa, pandangannya tampak jauh melewati kaca-kaca hitam di peron, tidak kosong. Kedua tangannya ditelungkupkan di paha, di bagian rok merah berbunga-bunga yang tampak telah berusia tua. Bahunya tegak. Walaupun wajahnya murung, bahasa tubuhnya tidak murung, lebih memancar bara karena tegar dan berani. Di antara lalu-lalangnya orang-orang di jam sibuk kota Hongkong ini, aku berkedip setiap ia menghilang terhalang orang yang berseliweran, sisanya aku memandangi gadis tirus itu dengan terang-terangan. Ia bergerak, merapatkan syal hitam yang melapisi sweaternya, udara dingin mulai menelusuk ke lehernya mungkin.

Gadis itu nampak ringan, lebih ringan dari orang paling ringan yang pernah aku kenal. Ia tipis, lebih tipis dari udara di dataran tinggi Tibet. Ia nampak bersinar transparan, seperti gelas kaca yang ditembus langsung oleh sinar matahari tropis. Aku berkedip sekali selama seperseribu detik, tak ingin meluputkan ia dari mataku.

Baru sekali ini aku menemukan ia, padahal dalam jadwal yang sama setiap hari aku ada di stasiun ini, duduk selama beberapa menit untuk meredakan adrenalin hari yang selalu membuncah hingga ubun-ubun. Mungkinkah ia gadis dari Cina yang baru datang dari Shenzen dan menunggu kekasihnya yang akan datang menjemput - yang menjanjikan ia akan dilepaskan dari kekangan bos di rumah pelacuran? Banyak desas-desus yang mampir di telingaku mengenai kasus gadis pelacuran yang datang ke Hongkong dari perbatasan, entah itu nyata atau sebenarnya hanya kabar burung yang enak disenandungkan oleh teman-teman sekerjaku.

Mataku berkedip sekali lagi, seperseribu detik. Kereta datang, orang-orang masuk. Gadis elok itu berdiri, mendekat ke arah pintu masuk, seperti hampir melayang. Aku ingin berlari mencegahnya, menyelamatkannya dari skenario yang ada di kepalaku. Mata sayunya tidak berkedip, pipi tirusnya terangkat bersamaan dengan bibir tipis yang menyunggingkan senyum. Tersadar, ia tersenyum untukku. Dan sekian detik berikutnya, tubuhnya diterobos seorang bapak yang tergesa masuk ke dalam gerbong kereta yang pintunya hampir menutup. Tubuh tipis itu tercerai berai menjadi cahaya putih.

Aku termangu. Dan tersadar bahwa aku belum membalas senyumnya.

0 winds from friends and strangers:

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates