saudara, bernama kota.

Ia tidak pernah terlalu mencintai kota ini. Seperti dua saudara yang terpaksa terlahir dari satu rahim yang sama, terpaksa menyayangi, terpaksa berbagi darah. Lahir dan besar di kota yang sama, dua puluh sembilan tahun menapak tanah yang sama, sedari masih berupa tanah gembur hingga menjadi beton gersang. Tujuh tahun ia menghirup udara, berbagi nafas dengan istrinya, di kota yang sama - saudara sekandung yang tidak dicintai dari dasar hatinya.

Tujuh tahun silam, ia bertabrakan dengan wanita- yang ia nikahi tiga bulan kemudian - di sebuah pojok pusat perbelanjaan. Sedang menemani kekasihnya pada saat itu - urusan wanita -  berbelanja. Tak urung wanita yang ia tabrak secara tak sengaja itu mentautkan benang merahnya - yang erat dan kasat mata - di jari kelingkingnya. Berhari-hari kepalanya berbayang wajah wanita itu, dan otomatis kekasihnya tercampakkan begitu saja. Ribuan maaf terucap dari bibir, demi ia bisa berpindah hati ke wanita berbenang merah. Dan tiga bulan saja, jari manisnya berbalut komitmen. Tiga bulan.

Benang merah tak kasat mata telah putus sia-sia. Seperempat hidupnya menguap tanpa dapat ia klaim. Saudara sekandung mengkhianatinya. Kakinya merah, berkubang darah. Istrinya tenggelam, dahinya mencium beton gersang. Sementara kota itu tetap berdenyut, sembari terus menghembuskan nafas, ia tetap hidup.. sedangkan istrinya mati.

Dua puluh sembilan tahun setianya tak bernoda, dan dalam dua puluh sembilan detik istrinya meregang nyawa di atas tanahnya. Ia mencoba berteriak, tapi yang keluar hanya rintihan, dan matanya pedih disusupi air mata dan linangan darah dari dahinya. Orang-orang berseliweran, melemparkan pandang iba tanpa berusaha berhenti dan mengulur tangan.
Penabraknya telah lari, menembus kemacetan dengan membabi buta, mengkorupsi tanggung jawab terhadap korbannya.
Istrinya telah mati, dan ia paham benar.
Saudaranya telah berpaling, pun ia mengerti sebabnya - karena cintanya hanya keterpaksaan. Tahun-tahun setianya tidak terhitung, dan penyesalan menyayat tulangnya - sudah seharusnya ia pergi sedari ia sadar bahwa ia tak pernah benar-benar cinta.

Sepedanya terkapar jauh. Istrinya dan darah. Ia dan penyesalan.

Dan saudaranya tertawa bergaung, ia bisa mendengarnya.


*teruntuk jakarta

Comments

Popular Posts