{Empat Menit} Bukan Fiksi.

Terlalu banyak fiksi yang terlontar belakangan ini, mungkin itu cerminan dari apa yang ada di pikiran saya. Terlalu banyak fiksi, sampai-sampai waktu berlalu tanpa sempat dinafasi. Kalender tahun 2012 hampir dibalik, sebulan hampir berakhir, saya selalu terantuk pada keadaan ternganga tak percaya.. dan lalu bertanya-tanya hal yang sama: "hampir 30 hari, apa yang sudah saya lakukan?". Pertanyaan yang selalu saya acuhkan, saya selalu enggan menjawabnya, lebih memilih untuk menundanya hingga tahun berlalu.

Pada kenyataannya, banyak yang terjadi. Menunggangi awal tahun ini dengan terkaget-kaget, sehingga terkadang kalender pun lupa dicoret. Sudah pasti saya merujuk pada perubahan. Dan yang sudah pasti akan terjadi adalah perubahan domisili yang akan keluarga saya lakukan, sekarang kami (khususnya kedua orangtua saya) sedang jungkir balik dan harap-harap cemas mempersiapkan dari nol. Ini rumah impian orangtua saya, karena sejauh ini telah meninggalkan rumah milik pribadi selama belasan tahun dan lebih memilih meninggali rumah dinas - bisa dibilang ini seperti membangun impian yang belasan tahun mengawang. Saya excited, itu sudah pasti.

Ada pula perubahan status dari orang-orang yang dekat dengan saya, wisuda master degree adik saya yang akan segera berlangsung, perubahan cita-cita pribadi saya, perubahan pola pikir, perubahan cara pandang, dan perubahan pertemanan. Itu semua mengalami pergeseran perubahan.

Seiring dengan kejadian-kejadian yang silih berganti mengisi ruang waktu, entah mengapa saya jadi lebih banyak mengisi ruang pikiran dengan merenung dan mengamati. Mengamati Papa saya, mengamati Mama saya, mengamati hubungan-hubungan yang terjadi antara saya dan dunia luar - misalnya teman-teman, mengamati arah hidup dan mengamati probabilitas. Selebihnya, saya mengaku kalah, karena saya tidak mampu melampaui waktu untuk terus maju ke depan dan mendahului milisekon. Dengan menjadi pengamat, saya jadi punya kesimpulan-kesimpulan pribadi yang mungkin akan mengubah saya dan hidup saya di masa yang akan datang. Mulai berpikir untuk hal-hal yang lebih serius dan tidak klise. Mulai mengerti untuk stepping back dan tidak ambisius dalam merencanakan sesuatu. Pada beberapa titik, mungkin saya sebenarnya sudah tahu kemana saya akan melangkah, saya hanya butuh membuat jalan yang berpondasi lebih kokoh. Bukankah semua orang juga begitu? :)


Fiksi-fiksi yang telah saya bangun, itu alam bawah sadar, tertoreh tanpa plot yang direncanakan. Mungkin terbaca, mungkin tertebak, tapi itu harapan dan ketakutan yang berkolaborasi menjadi satu. Yang menjadi doa, 366 hari yang akan saya genggam sesungguhnya semoga berujung pada impian saya untuk 'terbang'. Tidak secara fisik. Dan tentunya, tidak secara fiksi.

Comments

Popular Posts