#18 Andy dan Kotanya

Menapak di kota ini, berharap disambut dengan sesuatu yang mendekati Phuket - sesuatu yang beraroma pariwisata yang menawarkan rasa berlibur. Namun, sekali itu, harapan itu tertimbun dengan sebuah aroma familiar di bandara internasional Mactan - aroma kota.

Melangkahkan kaki lebih ke dalam lagi ke kota, kembali perasaan familiar merasuk lebih tajam. Ini.. kota. Sungguh, saya tidak kecewa. Saya justru terpana. Familiaritas itu ada, karena saya seperti merasa pulang ke Jakarta, sebuah kota yang penuh chaos, dimana garis kemiskinan dan garis kekayaan terlihat sama tebalnya.

Berjalan kaki menyusuri sederetan panjang ruko berdinding lusuh dan menghitam, mengingatkan akan daerah Kota yang senada walau tak serupa. Gelandangan, anak-anak kecil yang telanjang bulat bertebaran di pelataran ruko-ruko - yang entah masih berpenghuni atau tidak. Wanita dan pria berpakaian lusuh campur baur, mengelompok di pojok-pojok gelap, ada yang tidur beralaskan kain tipis dan ada yang duduk-duduk memandang kosong ke jalan raya. Gembel bertelanjang dada, tidak beralas kaki, dan bertangan kotor karena lumpur pun sibuk merogoh-rogoh saluran air penuh comberan - dia mencari uang receh.

Angkutan umum (jeepney) warna-warni berseliweran di jalan raya, keneknya sibuk memanggil-manggil calon penumpang untuk naik, di sana sama saja - angkutan umum seenaknya berhenti di tengah jalan demi penumpang. Lampu lalu lintas sedikit yang beroperasi, kebanyakan tidak berfungsi dan hanya berdiri di setiap persimpangan dalam diam, menjadi saksi bisu kericuhan yang terjadi di sekitarnya.

Kota ini membuat saya melongo, mengelus dada, dan sedikit malu. Perasaan yang sama seperti saat saya menjadi bagian denyut kota tempat rumah saya berada. Di sana seperti perkawinan Pasar Baru - Kota - Pasar Minggu. Ricuh. Campur baur jadi satu. Seliweran manusia, kendaraan, dan pergesekan sosial yang menjadikannya berdenyut, walau hanya sesekali dan hampir kritis.




Lalu, saya bertemu Mr Andy Fernando Casquejo, seorang guide yang saya temukan via trip advisor. Bayangan saya, akan muncul seorang lelaki paruh baya dengan dandanan necis a la tour guide yang biasa saya lihat. Lalu muncullah seorang lelaki bercelana pendek dan berkaos tangan panjang hitam memudar, dengan kulit gosong menghitam dan senyum lebar. Jauh dari yang saya bayangkan sebelumnya. Senyumnya bolak balik ditawarkan kepada kami, plus cerita bahwa dia berangkat dari rumahnya jam 4.30 pagi. Saya terkesiap, merasa bersalah karena menentukan jadwal bertemu yang terlalu pagi. Rumah Andy berada di pulau berbeda, jarak tempuh dari hotel hingga pelabuhan 30 menit, ditambah dengan naik kapal sekitar 15-20 menit.

Kapal Andy yang cukup luas - mungkin karena hanya diisi 3 orang dari kami, ditambah dengan 3 anaknya yang masih kecil dan satu sepupu Andy - membawa kami menyusuri laut biru, kendati langit tidak terlalu bersahabat dan menunjukkan moodnya yang berawan. Andy membawa kami ke titik-titik penuh ikan dan berair tenang, menunggui kami dengan sabar sembari tidak melepaskan pandangannya dari kami yang sibuk mencelupkan kepala memandangi alam bawah air. Sementara itu, anak-anaknya yang masih kecil dengan santai meloncat tanpa pelampung, berteriak-teriak seru dalam bahasa Tagalog dan tertawa sambil bermain air.

Kesempatan mengunjungi rumah keluarga Casquejo datang tanpa direncanakan, kala itu hujan dan kami diundang masuk ke dalam rumah sederhana di Pulau Olanggo. Rumah yang cukup sempit untuk diisi sembilan orang di dalamnya, berdinding bambu - dengan poster besar boyband Korea yang saya rasa digunakan untuk menutupi lubang besar disana, beralas tanah, dan beratap sirap.

Saya menghitung jumlah anak Andy, tujuh orang. Memandang berkeliling rumah.
.. Dan saya menghitung jumlah uang yang saya bayarkan untuk Andy.

Saat saya mengeluh, saya selalu lupa pada hal-hal seperti ini. Memandang selalu ke atas, melupakan apa yang ada di bawah. Dan perasaan malu menjadi sebuah tembok besar yang membuat saya menabraknya dengan keras. Hidup itu kejam. Tapi senyum yang di'obral' oleh Andy, istri, dan anak-anaknya seolah menjadi penawar bagi mereka. Memberikan rasa manis, walaupun tak seberapa. Mereka bersyukur, dan mereka hidup.

Menghubungi Andy dan menggunakan jasanya berkeliling pulau-pulau di Kepulauan Cebu dapat membantu melebarkan senyum 9 orang. :)
Andy bisa dicapai di alamat email : andy_fernando_casquejo@yahoo.com atau telepon +63 9095981871.

Cheers to life, no matter how bad it is! :)

0 winds from friends and strangers:

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates