#17 Raga dalam Sejuta Detik

Ia namanya Raga. Ia salah satu dari sekian banyak manusia yang mampu menyaingi aku, menyaingiku untuk membuat diriku penting. Aneh memang. Sejuta detik yang mengalun di telinga, terasa abadi, diam dan mengambang di udara.
Dia mencari aku dari sudut matanya, selalu begitu, tidak pernah menembus ragaku secara horizontal, selalu hanya dari sudut. Sudut itu sudut yang aku kenal, sudut Raga..tidak pernah luput mengena.
Ia adalah salah satu dari sedikit orang yang - entah bagaimana - mampu melengkapi kalimatku sedari awal.. padahal saat itu usia pertautan kami masih bisa diukur dengan seputaran jarum jam.

Raga tidak berbagi, ia penuh rahasia dan kompleks. Namun, ia terbaca.
Ia seperti aku, kami sama. Raga tidak perlu menghadapkan wajahnya padaku atau menyendengkan telinganya ke mulutku. Ia mengenalku, serta seluruh pori-pori yang membuka di permukaan kulitku. Ia seperti aku yang hilang - yang tetap bukan aku.

Raga datang, aku tidak menanyakan ia darimana. Pun tidak akan kutanyakan kemana ia pergi saat ia hilang. Kata-kata tertelan begitu saja, mengambang tak tersampaikan, layaknya sejuta detik yang seperti tak pernah terlewati. Raga, mengalun seirama dengan laguku, tak sama tapi meruas nada yang merdu.

Ia namanya Raga, ia jiwa yang menyerupai aku dalam sejuta detik yang tak pernah berakhir.

0 winds from friends and strangers:

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates