#14 Menyapa Hidup

Kembali lagi pada titik ini. Kali ini lebih berputar, kali ini lebih menampar. Bukan, bukan karena saya terus-terusan mengeluhkan betapa hidup itu sangat sulit dan tidak berbelas kasihan (but yes it is, apparently), tapi kali ini, di usia 25 tahun dan bergerombol kenyataan bermunculan dengan tanpa peringatan. Menjadikan saya (baca : kami) terus-terusan berpusar di dalamnya, menggapai-gapai memohon untuk ditarik keluar.

25 tahun dan belum mencapai-apa-apa. Quarter life crisis, berkali-kali kata ini disebutkan oleh sahabat-sahabat saya. Kalau Bo bilang, ini saatnya kita melihat ke belakang dan ke depan. Lebih parah daripada mid life crisis. Karena kita harus melihat ke dua arah berbeda --- dua arah itu jalannya sudah dan masih panjang. Merefleksi, apa sih yang sebenarnya sudah dicapai selama keseluruhan 25 tahun kemarin ini? Dan apa sih rencana kita untuk meneruskan 25 tahun (dan 25 tahun setelahnya) ke depan? Dan saya (baca: kami) sudah sampai di titik ini, tidak punya jawaban, celingak-celinguk mencari jawaban yang sebenarnya tidak ada di mana pun, karena memang saya belum sampai di mana-mana.

Hidup yang belum sampai mana-mana ini bahkan sudah diwarnai dengan seribu satu dilema yang tidak memiliki jalan keluar. Menghantarkan pada pintu-pintu terkunci, yang jika diketuk hingga tangan berdarah pun tidak akan pernah dibukakan.

Hidup yang saya sapa sekarang adalah hidup yang sebenarnya penuh 'kepalsuan'. Saat kita selalu berusaha menjadi 'benar', karena kita tidak pada posisi 'benar' yang dikenal benar oleh norma masyarakat pada umumnya. Berjalan di jalur yang berbeda, walaupun arahnya sama. Berkali-kali berusaha menyeberang ke jalur umum, dan kita selalu tersesat dalam perjalanan menyeberanginya. Pada akhirnya, kita menyerah dan memilih untuk berjalan di jalur kita, suka atau tidak suka - dicemooh atau tidak dicemooh.

Hidup yang diisi dengan jutaan cinta bertepuk sebelah tangan. Yang walaupun sudah digenggam bertahun-tahun, tetap tidak berbalas. Yang bahkan Tuhan pun sebenarnya pasti tahu benar isi hati mereka. Cinta yang diagung-agungkan miliaran orang --- itu bohong. Tidak semua cinta yang seindah itu. Ada berpuluh juta cinta yang tidak berbalas, yang merupakan pertemuan antara kerelaan dan rasa sakit, yang menjadikan hidup itu pahit namun tetap harus ditelan bulat-bulat.

Hidup yang diisi dengan ketidaktahuan akan posisi Tuhan. Tuhan yang disembah dan disebut dengan berbagai nama, namun kemuliaan-Nya satu. Dia ada dimana? - saat kenyataan yang berakar pada penciptaan, dan menjadikan sebenarnya manusia itu tidak sama dengan yang lain? Dia berpikir apa? Kami berteriak, meminta-Nya menjawab dan membukakan pintu. Tuhan yang menjadikan kami hidup dan memberikan keselamatan, Tuhan yang kami pegang teguh di dalam hati dan jiwa.. pertanyaan besar kami, "mengapa?".

Hidup yang diisi dengan ribuan kejatuhan dan kebangkitan dari rasa sakit dan perih. Tidak berbelaskasihan, mungkin ya benar. Dan saya terbangun --- merasa sedang ada di tepi jurang. Berjatuhan semua keberanian, melumpuhkan kecongkakkan dan superioritas terhadap hidup, merasa kecil dan kehabisan energi.

Hidup yang saya sapa adalah hidup yang tidak manis, entah itu milik saya atau bukan. 25 tahun - seperempat abad, itu jumlah waktu yang telah saya habiskan.

Dan andai Jakarta, Singapore, dan China tidak sejauh itu, sungguh saya ingin berkubang dalam kehangatan bersama mereka - 'si 25 tahun yang ada di Jakarta' dan 'si 25 tahun yang ada di China' - mengupas tuntas krisis ini tanpa mencari jawaban, sebenarnya hanya ingin mencari pegangan tangan erat supaya kami tidak jatuh ke dalam jurang.

Cheers to you, complicated life!

1 winds from friends and strangers:

xx said...

mati lo blogpostnya -_____-

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates