Liburan Sekolah

Liburan naik kelas. Itu yang paling ditunggu-tunggu di jaman sekolah dulu, biasanya sekitar Juni dan Juli seperti sekarang ini. Setelah lepas dari bangku sekolah berseragam, dan memasuki dunia sekolah yang paling tinggi (universitas), liburan naik kelas tidak terlalu terasa. Pasalnya liburan kuliah biasanya diisi dengan kegiatan kampus dan/atau semester pendek (walaupun di jurusan saya tidak ada semester pendek). Liburan sekolah dan kuliah jelas berbeda rasanya, saat jadi mahasiswa rasanya sudah tidak terlalu pantas lagi untuk merengek pada orangtua supaya diajak berlibur (setidaknya itu sih yang saya rasakan, lagipula saya dulu lebih menikmati berkegiatan di kampus).

Liburan sekolah jelas berbeda, waktu kurang lebih satu bulan itu benar-benar waktu bebas dimana anak sekolah bisa bebas dari seragam sekolah dan menikmati waktu luangnya sesuka hati. Kesempatan langka yang sangat bisa dimanfaatkan untuk ke luar kota atau ke luar negeri, supaya bisa jauh dari kota bertinggal untuk beberapa waktu. Toh, saat masuk sekolah, guru-guru pasti akan meminta murid-muridnya untuk membuat karangan dengan tema "Liburanku". (so typical..)

Tapi, saya tergelitik dengan sebuah pernyataan yang saya dengar barusan.
"Banyak anak sekolah yang tidak bisa meminta pada orangtua mereka untuk berlibur di masa liburan sekolah, karena mereka tidak punya uang."
Ouch! Tepat sasaran bukan? Di saat ratusan anak asyik menikmati liburan di pantai, di gunung, di kebun teh, di disneyland, di eropa, dan dimana-mana, ada segerombol anak yang sibuk menghasilkan uang untuk membantu orang tua. Oke, segerombol anak yang saya dengar ini adalah anak-anak di Sulawesi. Ada yang sibuk menenun dan menjual hasil tenunannya setiap hari, ada pula yang berjualan koran dan bisa membiayai sekolahnya sendiri dari hasil berjualan itu. Omset hariannya Rp 40.000. Dan dengan jumlah sesedikit itu, ia mampu membayar sekolahnya sendiri.

Saya sih tidak menyalahkan anak-anak yang bisa berlibur, karena toh dulu saya juga ada di posisi anak-anak yang bisa merengek pada orangtua saya untuk mengajak saya liburan. Bukan salah mereka karena mereka mampu berlibur, dan juga bukan salah mereka yang tidak mampu berlibur jika mereka harus bekerja keras cari uang. Tidak ada yang salah, itu pasti. Hanya saja, saya tergelitik. Betapa dunia ini benar-benar berjalan tidak seimbang. Mereka yang benar-benar ingin sekolah, harus jungkir balik mengais setiap lembar ribuan. Dan ada mereka yang berlimpah uang dan tidak terlalu berpikir panjang untuk malas-malasan bangun pagi atau membolos sekolah.


Hampir seumur hidup saya mendengar kata 'anak tidak mampu', dan hampir seumur hidup saya belum berbuat apa-apa untuk sekadar mengulurkan tangan saya supaya bisa memberi perbaikan dalam hidup mereka, setidaknya agar mereka mampu bersekolah dengan sedikit lebih baik dan layak. Atau mungkinkah saya memberikan 'liburan' sekolah untuk mereka seperti layaknya anak-anak yang lebih mampu?

Sumber gambar : Google search

Comments

Popular Posts