Tentang Hati.

Dua minggu lalu, datang sebuah email dari teman saya, meminta bantuan tenaga arsitek untuk membantu mendampingi warga Cina Benteng menghadapi penggusuran. Dalam hal ini, mendampingi mendesain shelter yang layak untuk mereka. Di detik itu, saya bertanya-tanya, siapa sih Cina Benteng? I heard them before, but I didn't know exactly who they are.

Ternyata mereka adalah komunitas Cina yang hidup di pinggiran, di pinggir sungai tepatnya. Itulah mengapa isu penggusuran ini menyeruak ke permukaan, pemerintah Tangerang bermaksud menggusur pemukiman tidak layak di bantaran sungai dengan alasan penghijauan. Jika menengok ke belakang, sejarahnya komunitas Cina Benteng ini sudah ada di daerah tersebut sejak jaman Belanda. Banyak situs sejarah yang ada di daerah tersebut yang masih berdiri, berdenyut bersama-sama dengan orang-orang keturunan Cina tersebut.

Cina Benteng itu salah satu unsur keberagaman dalam komunitas Bhinneka Tunggal Ika NKRI, DKI Jakarta pada khususnya. Cina Benteng tersebut adalah masyarakat yang hidup dekat dengan garis kemiskinan, mereka masyarakat terpinggirkan. Mereka mengalami diskriminasi dan rasisme sepanjang hidup mereka. Mereka bertahan hidup di bantaran sungai, mereka hanya ingin hidup dan memberikan kehidupan yang lebih layak pada anak cucu mereka. Jika terjadi penggusuran, mereka akan kehilangan akar asal usul mereka di Indonesia. Puluhan tahun mereka menginjak tanah yang sama, dan kemudian akan digusur tanpa tahu tujuan yang jelas, bukankah itu tidak manusiawi?

Suatu ketika saya ditanya tentang Cina Benteng dalam diskusi informal, apakah mereka memiliki IMB yang jelas, apakah mereka memiliki akta tanah dan kepemilikan yang jelas dan sah. Kalau mereka tidak punya, sudah seharusnya mereka digusur. Dan kalau mereka, yang tidak secara resmi memiliki surat-surat tersebut, diperbolehkan bertinggal di tanah yang tidak mereka miliki, maka komunitas-komunitas lain juga akan berlaku hal yang sama. Komunitas lain akan ngelunjak. Mau jadi apa negara ini kalau semuanya hanya berdasarkan perasaan dan tidak menggunakan logika? Bukankah peraturan sudah jelas dan sudah seharusnya ditaati, demi sebuah negara dan pemerintahan yang lebih baik?

Saya terpaku.

Kalau memang semuanya hanya berdasarkan logika. Memang negara ini akan maju. Tapi, kemanakah hati akan pergi? Ini bukan masalah legal dan tidak legal, ini sudah lebih dari itu. Rasa kemanusiaan.

Justru di sinilah masalah utama negara terbesar, saking tidak punya hatinya, pemerintah hanya melindas orang-orang miskin. Mereka memberlakukan peraturan hanya untuk kaum yang tidak mampu melawan, mereka 'keras' untuk hal-hal yang lemah, yang mampu mereka atur. Karena pemerintah itu dimiliki oleh kaum atas, mereka melunak untuk orang yang memiliki kekuasaan dan kekayaan.

Coba tanya hatimu, wahai pemerintah, tegakah kalian mengusir ratusan orang yang tidak punya apa-apa selain rumah ilegal mereka di pinggir sungai itu? Tegakah kalian merampas hak milik mereka satu-satunya?

Jika tertarik untuk membaca artikel tentang Cina Benteng, silahkan klik di sini.

0 winds from friends and strangers:

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates