Singlish lorh!

Saya sering sekali menggunakan Singlish sebagai bahan becandaan dengan teman-teman saya.. bermaksud menjadikannya lelucon yang tidak pernah habis kelucuannya. Kami menganggap singlish sebagai bentuk kesalahan dalam berbahasa (Inggris). Banyak kata-kata imbuhan yang menjadi lekat dengan setiap kosakata bahasa Inggris dan tidak dapat dilepaskan dalam keseharian masyarakat Singapura.
Sebut saja :
"lorh!" yang dibaca "lah";
"meh";
"leh";
dan juga "can" yang seharusnya berarti bisa atau dapat, namun disalahgunakan di Singapura sehingga kata "can" bisa juga berarti "iya" atau "oke".

Berikut pembahasan Singlish menurut wikipedia.com :
The vocabulary of Singlish consists of words originating from English, Malay (mainly Bahasa Melayu rather than Indonesian), Hokkien, Teochew, Cantonese, Tamil, Bengali, Punjabi and to a lesser extent various other European, Indic and Sinitic languages, while Singlish syntax resembles southern varieties of Chinese. Also, elements of American and Australian slang have come through from imported television series and films. Recently, because Mandarin Chinese is taught to most Singaporean Chinese students in school, Mandarin words have also found their way into Singlish.

Menilik dari akar sejarah Singlish, sudah jelas jika bahasa yang sangat populer di negara kecil ini adalah campuran dari berbagai macam bahasa. Singlish menyerap berbagai "budaya", aksen, dan dialek, bercampur baur menjadi sebuah 'bahasa kebanggaan' Singapura, yang sebenarnya tidak cocok didengar oleh telinga asing. Namun, jika sudah tercebur di dalamnya, otomatis telinga akan beradaptasi dengan logat tersebut, sehingga apa yang tadinya terasa nyleneh.. toh akan terasa biasa juga.

Dan pada posisi saat kita berada di dalam lingkungan masyarakat Singapura dan sudah terbiasa dengan logat Singlish mereka, saya jadi bertanya-tanya: apakah Singlish itu 'salah'?

Saya mencoba mengaitkannya dengan pengalaman pribadi saya. Saya bertinggal di beberapa tempat di Indonesia yang memiliki bahasa daerah berbeda-beda, kebetulan semuanya berada di Sumatera (terkecuali Jakarta).

Saat saya masih ada di TK, saya tinggal di Riau,
di Pulau Sambu tepatnya (sebuah pulau kecil yang sulit ditemukan di Kepulauan Riau). Di Pulau Sambu, masyarakatnya berbahasa Riau-Melayu. Saya yang datang dari Jakarta, langsung terbiasa berbicara dengan logat Melayu dan berbaur dengan anak-anak setempat. Saya agak lupa dengan bahasa Riau, yang paling saya ingat adalah menyebut "kamu" dengan "engko".

Dari Pulau Sambu, saya berpindah ke Bandar Lampung. Di Lampung, bahasa yang digunakan sedikit mirip dengan bahasa Jakarta, mungkin dikarenakan oleh letak geografis yang cukup berdekatan. Awal-awal berada di Lampung, saya menjadi anak yang kuper, pasalnya bahasa Riau-Melayu itu berbeda sekali dengan bahasa gaul yang digunakan di Lampung. Setelah beberapa lama, akhirnya saya bisa menyatu juga dengan komunitas Lampung dan bibir saya pun fasih berbicara dengan logat dan bahasa Lampung. Menurut saya, aksen yang digunakan di Lampung agak mirip dengan aksen Sunda, namun dengan kosakata dari bahasa Jakarta. Bahasa yang (saya ingat) biasa digunakan anak Lampung adalah : gue, elu, tah (biasa digunakan dalam pertanyaan, seperti "iya tah?"), dan geh (penggunaannya misalnya "jangan gitu geh..").

Dari Lampung, saya beranjak lagi ke Sumatera bagian Selatan lainnya, yaitu Palembang. Nah bahasa yang digunakan juga berbeda lagi, kali ini juga saya harus berjuang agak keras agar bisa membaur dengan anak-anak Palembang. Kosakata yang digunakan oleh orang Palembang kebanyakan diserap dari bahasa Jawa, mungkin karena latar belakang sejarah dimana orang Jawa dulu pernah membangun koloni di Sumatera Selatan. Walaupun agak mirip bahasa Jawa, namun logat yang digunakan berbeda, jika didengar sekilas bahasa Palembang tidak sehalus bahasa Jawa. Di awal kepindahan saya ke Palembang, saya juga banyak berdiam diri. Kebanyakan tidak tahu apa yang teman-teman saya bicarakan, karena kesenjangan latar belakang bahasa. Namun, lambat laun, saya bisa juga belajar secara otodidak dan fasih berbahasa Palembang. Contoh kata dalam bahasa Palembang yang mirip dengan bahasa Jawa : kata ikut, dalam bahasa Palembang adalah melok, sedang dalam bahasa Jawa adalah melu. Kata air, dalam bahasa Palembang dan Jawa sama-sama dilafalkan sebagai banyu.

Berdasarkan cerita kepindahan saya yang agak ribet di atas, sepertinya saya menangkap sebuah garis besar kesamaan dengan cerita Singapura saya. Setiap daerah jelas-jelas punya bahasanya masing-masing, dan itu semua adalah wujud apresiasi budaya dan akar sejarahnya. Setiap manusia yang ada di dalamnya punya pilihan untuk ikut berbaur atau menjadi berbeda di dalam komunitas. Sama seperti saya yang lost in translation saat dilepas di tengah komunitas Lampung atau Palembang, di saat saya tidak mengenal bahasa Lampung dan Palembang. Saya dianggap berbeda. Dan itu adalah kebebasan saya untuk ikut berbaur dengan lingkungan saya atau tetap berbahasa Riau di Lampung atau berbahasa Lampung di Palembang.

Dan karena saya sebagai newbie, saya tidak mengerti bahasa yang digunakan. Bahasa yang ada di daerah itu adalah aplikasi puluhan tahun yang telah menjadi budaya setempat, dan saya hanyalah orang yang baru masuk. Bahasa yang umurnya puluhan (atau ratusan) tahun itu tidak bisa disalahkan. Bahasa Palembang bukanlah bahasa Indonesia yang benar, demikian juga dengan bahasa Lampung dan Riau. Bahasa yang digunakan di daerah-daerah itu adalah bahasa yang menyimpang dari kaidah Bahasa Indonesia yang benar. Namun, bahasa daerah menjadi tepat penggunaannya karena sesuai dengan konteks tempat dan situasinya.

Sama dengan Singlish.
Kita tidak bisa menyalahkan Singlish, hanya karena Singlish bukanlah Bahasa Inggris yang benar. Singlish adalah kependekan dari Singapore English, dan dari situ adalah jelas jika Singlish adalah Bahasa Inggris yang digunakan di Singapura. Konteksnya jelas dan tepat.
Jika kita di Jakarta, kita akan menggunakan "elu" dan "gue". Jika kita di Semarang, kita akan menggunakan "aku" dan "kamu". Jika kita di Palembang, kita akan menggunakan "aku" dan "kau". Semuanya tepat guna.

Jadi, hendaknya jangan salahkan Singlish.
Karena bahasa Jakarta juga bukanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Singlish jadi benar, jika digunakan sebagai penyesuaian dengan pergaulan di Singapura.

Namun, alangkah baiknya jika kita tetap menggunakan Bahasa Inggris yang benar. Speak Good English!


sumbernya si poster : http://english-matters.blogspot.com/2008/04/speak-good-english-posters.html

sumbernya si gambar : http://www.blogcatalog.com/discuss/entry/speak-good-english


0 winds from friends and strangers:

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates