to forget what's not ours.

Ada seorang ibu yang memiliki anak laki-laki berusia 6 tahun. Anaknya bernama Kaka, sedang gandrung bermain kelereng yang kebetulan memang bermain kelereng sedang populer di kalangan teman sepermainan Kaka. Kaka hanya punya satu kelereng, dan kelereng itu amat sangat disayanginya.
Namun, suatu hari kelereng kesayangannya itu hilang. Raib entah kemana. Tentunya, Kaka sangat sedih dan panik. Seisi rumah, sudah diubek-ubek oleh Kaka dan Ibunya, namun tetap tak kunjung ketemu.
Di tengah keputusasaan, tiba-tiba Kaka menyeletuk kepada Ibunya (yang sudah ngos-ngosan melongok-longok ke semua kolong perabot rumah), "Bu, ayo kita berdoa pada Tuhan."
Ibu Kaka langsung berseri, begitu bangga pada anaknya yang ternyata bisa berpikir tentang pertolongan Tuhan di tengah kesulitan. "Ayo, Ka!"
"Tapi, aku yang pimpin doa ya, Bu," Kaka berkata lagi. Si Ibu mengangguk cepat, luapan rasa gembira menjelajahi ruang hatinya.
Demikian bunyi doa Kaka yang sederhana, "Tuhan, bantulah Kaka menemukan kelereng yang hilang. Hanya dengan pertolongan-Mu lah, aku bisa menemukan kelerengku. Amin."
Tapi malamnya, Ibu Kaka gelisah. Tidak bisa memejamkan mata karena begitu khawatir. Ternyata Ibu Kaka sangat khawatir kalau kelereng anaknya tidak bisa ditemukan, maka Kaka akan kehilangan imannya pada Tuhan. Kaka yang masih sangat kecil dan muda adalah pribadi yang masih rapuh untuk mempercayai dan mengimani hal yang 'tidak terlihat'. Demikianlah kegelisahan si Ibu sepanjang malam terus menghantuinya.
Esok pagi, Ibu bangun dengan kegelisahan yang masih mendesak di hatinya, dia sangat berharap Kaka telah menemukan kelerengnya yang hilang.
Ketika Ibu di dapur, Kaka bangun pagi dan melangkah dengan ceria menghampiri Ibunya. Si Ibu lega, dan sangat yakin kalau kelereng sudah ditemukan..
"Selamat pagi, Ka!"
"Pagi, Bu!" Kaka menjawab dengan ceria.
"Gimana? Kelerengnya udah ketemu?"
"Oh.. Oh itu. Belum, Bu.."
Si Ibu terdiam, hatinya tiba-tiba berdebar.
"Tapi, tenang saja Bu. Kaka udah berdoa lagi tadi malem.."
"Berdoa apa, Ka?" Ibu penasaran.
"Berdoa supaya aku bisa melupakan kelerengku yang hilang itu, karena aku tau kalo Tuhan pasti akan kesusahan mencari kelerengku yang kecil itu.." Kaka menjawab dengan tersenyum lebar.
[cerita yang didapat dari Pr. Chandra Koesowo hari Minggu kemarin]

That's how we do life.
Melupakan apa yang sudah lalu,
melupakan apa yang hilang,
dan melupakan rasa sakit di masa lalu.
Karena suatu saat nanti, apa yang menjadi bagian kita pasti akan kita dapatkan..
Jangan menangisi masa lalu. Berharaplah apa yang jadi 'jatah' kita, and be thankful for it.
Be happy for your life. Cheers. :)

Comments

nice post kawan...
Jika sesuatu dimasa lalu tidak membuat kita lebih baik di masa sekarang... then ignore it..


:D


SAlam Perantau™
novel. said…
iya, bener banget. teruslah berharap untuk apa yang terbaik untuk kita. :D

terimakasih teman!

Popular Posts