the trend story.

Akhir minggu kemarin, saya dan teman-teman serumah saya ngidam makan Ojolali. Pasalnya, kami baru saja menguras tenaga kerja bakti bersih-bersih rumah seharian.. dan merasa usaha kami patut dibayar dengan sepiring ayam bakarnya Ojolali yang super lezat (promosi nihh..). Jadi, walaupun badan rasanya sudah mau patah, kami nekat jauh-jauh ke Orchard demi mengecap rasa ayam bakar.
Selain ayam bakar, mata saya juga bandel berkeliling sana-sini, jelalatan menjelajahi etalase toko (yang kami datangi setelah kenyang, tentunya). Like we (all) already knew.. Orchard itu pusat bling-bling-nya Singapur, dimana-mana banyak brand, dari yang infamous sampe yang kategori 'never-heard-that-brand-before'.


Di Ngee Ann City, lewatlah kami di depan Louis Vuitton, dan coba tebak apa yang terjadi di sana.. Orang-orang mengantri untuk masuk! Kami berempat langsung melongo (maklum..kami cah ndeso yang saat itu cuman pake sendal jepit dan celana pendek, hehe).

Masuk LV musti ngantri? Ini orang-orang katanya pada resesi.. tapi yang beli tas dengan cap LV aja sampe ngantri. Resesi apanya?

Belum habis melongo di depan LV, lalu hal yang sama terjadi di depan Gucci, orang-orang juga mengantri masuk.. dan antriannya seperti antrian loket bioskop..


Dunia ini sudah ditelan kepopuleran brand.. bahkan untuk sebuah brand dengan harga tidak masuk akal saja (tidak masuk akal untuk tingkat ekonomi seperti saya), orang-orang rela mengantri panjang. Saya bingung.. sementara banyak orang-orang dipecat dari pekerjaannya setiap bulan, di lain pihak tas-tas ribuan dollar tetap laku di pasaran.. bukankah keadaan sangat tidak adil dan tidak seimbang?

Lalu, pembicaraan beralih lagi kepada fenomena Blackberry di Indonesia.


Masih teringat jelas di kepala saya, pengalaman menonton Java Jazz Maret kemarin, keadaan yang menempatkan saya di antara ratusan (atau bahkan ribuan) orang Jakarta. Dan yang langsung membuat saya terkesiap adalah saat saya menonton Jason Mraz.. dimana saya terjepit di antara orang-orang (namun tetap menikmati alunan merdu suara Mraz), lalu di saat klimaks semua orang mengangkat Blackberry masing-masing dan mengayun-ayunkannya di atas kepala mereka. Hampir semua orang mengenggam BB, dan saya tersenyum-senyum sendiri.

.. Saya jadi teringat jaman dulu, saat handphone berwarna baru muncul.. Saya mati-matian pengen beli Nokia 7650, sampe mimpi-mimpi tiap malem.. Tapi, ditolak keras oleh Papa saya.. Dan pada akhirnya pun, saya tidak pernah merasakan memiliki si 7650 itu..

Tahu kenapa saya mati-matian ingin punya, padahal saya tidak butuh? Karena, lingkungan saya secara tidak langsung memaksa saya untuk menginginkan dan membutuhkan si 7650 itu.. Padahal, logisnya, saya tidak butuh (dan mungkin orang-orang lain di lingkungan saya juga sebenarnya tidak butuh).

Lingkungan menjadi pemicu utama yang mendorong sekelompok orang berlomba-lomba menjadi sama dengan lingkungannya, itulah mengapa ada sebutan 'trend'. Sama halnya dengan fenomena jumlah kepemilikan BB dan iPhone, khususnya di Indonesia.

I'm not judging anyone here.. ;) I'm just trying to read the phenomena.

Yang saya lihat adalah.. dimana kebutuhan tersier sudah turun derajatnya menjadi kebutuhan sekunder atau primer. Dimana benda bernilai mahal (atau sangat mahal) adalah sebuah komoditi dagang yang diperjual belikan seperti gorengan pinggir jalan. Kesenjangan ekonomi ini membuat kestabilan sosial makin terguncang.. semakin hari, semakin parah. Dan semakin hari, saya semakin merasa bahwa paham komunis dan sosialis ada baiknya di-edit sedikit (khususnya komunis pada sisi kekejamannya) sehingga bisa diaplikasikan di dunia ini, sehingga kesenjangan antar strata sosial tidak sejauh sekarang, itu ekstrimnya. (eits, jangan anggap saya mulai main politik)

Coba dipikir-pikir.. mungkinkah suatu saat nanti 'kekuatan trend sebuah brand' menjadi salah satu sistem sosial?

once again, no offense.. ;)

Comments

gerrilya said…
"Coba dipikir-pikir.. mungkinkah suatu saat nanti 'kekuatan trend sebuah brand' menjadi salah satu sistem sosial?"

loh bukannya emang gitu?
novel. said…
hmmm..

sudah ya? maksudnya..apa akan benar2 100%?

atau sekarang ud 100%?
melur said…
Assalamu'alaykum

hehe itulah jahatnya trend vel...
mereka bisa mengubah mindset seseorang dan membiaskan makna "butuh" dan hanya sekedar "ingin"

Wassalam
novel. said…
iya..makanya kita musti pinter2 menajamkan akal sehat.. membedakan 'keinginan' dan 'kebutuhan', supaya nggak kejebak.

:)

Popular Posts