tanpa kata.

tidak berkata.
tidak berceloteh.
cukup dengan mata, cukup dengan sentuhan.

itu lebih dari cukup. untuk menjadi satu.
satu yang lebih dari dua, satu yang lebih utuh daripada dua.
seperti sepasang kaki yang berjalan berdampingan, mereka dua namun satu.
tidak timpang. namun, selaras.

kata-kata sudah melebur. bersatu dengan udara yang kita hirup bersama.
kalimat panjang sudah direduksi menjadi sekelumit waktu yang kita lumat bersama.
yang tersisa hanya indera-indera perasa yang lain.
yang berbicara lebih kuat, melebihi kata-kata yang terucap dari bibir.

dan jemari kita bertautan.
menatap ke kaca mobil yang basah karena titik-titik hujan, membiaskan cahaya lampu kota.
membiarkan pak supir taksi sibuk sendiri dengan kemacetan jakarta.
dan jemari kita tetap hanya saling menggenggam, meredam deru yang menggebu di dalam dada, entah itu apa.
aku bisa melihat, walaupun di sini gelap, kamu tidak tersenyum. aku pun tidak.

lalu, samar-samar, tape lama di taksi menyenandungkan sebuah lagu.

Indah larik pelangi seusai hujan membuka hari
Samar dirajut mega garis wajahmu lembut tercipta
Telah jauh kutempuh perjalanan
Bawa sebentuk cinta
Menjemput impian

Desau rindu meresap
Kenangan haru kudekap
S’makin dekat tuntaskan penantian
Kekasih, aku pulang
Menjemput impian

Kau dan aku jadi satu arungi laut biru
Takkan ada yang kuasa mengusik haluannya
Kau dan aku jadi satu sambut datangku

Sekian lama waktu telah mengurai makna
Cinta kita gemerlap terasah masa
‘Kan kubuat prasasti dari tulusnya janji
Walau apa terjadi tetap tegak berdiri

Bersama kita jemput impian…

(kla project)


besok aku pergi jauh,
mungkin nanti kita bisa menyanyikan lagu ini bersama..
di saat kita menjemput impian kita.

dan lagi-lagi,
kata-kata kita tertelan begitu saja.

0 winds from friends and strangers:

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates