diferensiasi.

Fashion refers to the styles and customs prevalent at a given time. In its most common usage, "fashion" exemplifies the appearances of clothing, but the term encompasses more. (www.wikipedia.com)

Mengacu pada pengertiannya secara umum, fashion bisa dikategorikan sebagai pembungkus luar tubuh. Secara tidak sadar, fashion - atau lebih spesifiknya lagi, yaitu pakaian, digunakan sebagai salah satu simbol sosial. Simbol yang menjadi ukuran tingkat kasta seseorang. Munculnya brand ikut menambah marak pembedaan tingkat sosial, sehingga tingkat ekonomi setiap orang dapat diukur dan dinilai melalui tampak luarnya.


Marie Antoinette (http://en.wikipedia.org/wiki/File:Marie_Antoinette_Adult4.jpg)

Though fashion was always led by the rich, the increasing affluence of early modern Europe led to the bourgeoisie and even peasants following trends at a distance sometimes uncomfortably close for the elites - a factor Braudel regards as one of the main motors of changing fashion. (Fernand Braudel, Civilization and Capitalism, 15th-18th Centuries, Vol 1: The Structures of Everyday Life," p313-316, William Collins & Sons, London 1981)


(source : http://en.wikipedia.org/wiki/File:1796-short-bodied-gillray-fashion-caricature.jpg)

"Following the Fashion" a December 1794 caricature by James Gillray, which satirizes incipient neo-Classical trends in women's clothing styles, particularly the trend towards what were known at the time as "short-bodied gowns" (i.e. short-bodiced or high-waisted dresses). This caricature satirizes the figure-type which is most flattered by high-waisted dresses, contrasting it with a body-type which was not flattered by the style -- as well as playing on the perennial struggle between attempts of the "Cits" (families of rich merchants in the City of London area) to imitate the stylish aristocrats of west London, versus the determination of the aristocrats to socially repulse the Cits, and consider them to be still unstylish.

Percaya atau tidak, analogi fashion sudah merupakan hal yang lazim di dunia arsitektur. Pemisahan lapisan sosial karena ‘kulit luar’ yang terjadi di dunia fashion, menjadi titik tolak terjadinya diferensiasi ruang dari segi sosial dalam praktek berarsitektur.

Bangunan-bangunan kontemporer yang ada sekarang adalah salah satu produk diferensiasi arsitektur. Arsitek-arsitek berlomba-lomba menjadikan ‘desain’-nya sebagai akomodator atau media untuk para user dalam mengadakan kontak sosial. Sehingga yang dihasilkan, semata-mata adalah pengakomodir ruang dengan elemen dekorasi yang memberikan gengsi atau prestige tertentu.

Jika desain yang dihasilkan adalah desain yang tidak extravaganza, maka akan dianggap sebagai desain gagal. Tolok ukur demikian yang membuat praktek arsitektur sekarang menjadi hampa. Semua berlomba-lomba masuk ke majalah, seperti halnya fashion, dan melupakan dasar berarsitektur yang sebenarnya.

Jika arsitek yang merupakan alumni sekolah-sekolah terakreditasi hanya mampu mengolah pikirannya sampai pada titik terbangun, terukur, terpakai oleh user golongan menengah ke atas, dan terkenal sehingga bisa masuk majalah.. maka bukankah sudah saatnya kita menoleh saja pada sosok arsitek yang tidak mengejar nilai-nilai ter- di atas?


Romo Mangun (source : http://www.socineer.com/indo-kenangmangun.html)

For six years he lived among the poor along the Code River in Yogyakarta, and built a Community Centre for them. (http://www.insideindonesia.org/content/view/437/29/)

Humanisme yang mengesampingkan tingkat diferensiasi sosal, menjadikan nilai arsitektur menjadi luas dan bermakna. Ruang yang dihasilkan oleh arsitektur Romo Mangun, lebih dari sekadar terbangun dan terkenal.

Pembedaan yang mengakibatkan kesenjangan sosial, membuat hubungan manusia menjadi tidak selaras. Pergesekkan interaksi berkurang dan mengakibatkan kecemburuan sosial. Coba lihat, siapakah user Plaza Senayan? Cek brand tag yang ada di balik blouse atau kaos atau jeans mereka, sudah bisa dipastikan sebagian besar adalah brand terkenal. Itu yang disayangkan.. klasifikasi sempit yang mengakibatkan pemaknaan ruang menjadi tereduksi, dari hari ke hari.

Coba melancong ke Kemang. Label anak gaul pasti sudah menjadi makanan sehari-hari. Dengan fashion terbaru dan paling trendi, mereka melenggang di pedestrian-pedestrian di Kemang, di malam Sabtu atau malam Minggu.

Hal demikian dikarenakan, penguasaan ruang kota oleh mereka yang merasa pantas untuk menempati kawasan tertentu. Dengan fashion dan label yang sudah mereka dapatkan, mereka berhak untuk ‘ada’ di daerah-daerah tertentu. Untuk pendatang dengan kulit luar berbeda, akan dipandang aneh jika memasuki kawasan tertentu.

Ruang yang terbagi-bagi berdasarkan latar belakang sosial dan ekonomi sudah membayangi kota masa kini. Arsitek pun terbawa arus. Mendesain ruang (dan/atau bangunan) hanya untuk kasta tertentu, hanya untuk golongan tertentu. Sehingga, lama kelamaan, golongan-golongan minoritas semakin terpinggirkan. Mereka yang tidak terfasilitasi, dalam hal ruang kota, menjadi sebuah fenomena baru. Fenomena terpinggirkan, out of community. Dan hal ini mengakibatkan pergolakan sosial, dimana semua orang akan mulai berlomba-lomba menjadi bagian dalam komunitas tertentu. Dan semua menjadi homogen. Kota akan kehilangan heterogenitas.

Teringat film Wall E. Dimana semua orang akan menjadi sama. Saat trend warna baju berubah dari merah menjadi biru (atau sebaliknya? saya lupa), maka semuanya “wajib” berubah warna.

Desain.. adalah salah satu alat yang dapat digunakan untuk menjadikan dunia ini tetap ‘multi’. Bukan hanya satu. Diferensiasi sosial yang terjadi, pada suatu titik..akan menjadi sebuah penyeragaman menyeluruh dalam komunitas.

Bukankah kita tidak menginginkan hal demikian?

2 winds from friends and strangers:

Metamorphosophia said...

humanis....

kmrn sore, dlm perjalan pulang kantor...saya terpikir kata itu...
arsitektur yang humanis...

merindukan kehumanisan...
makna....

novel. said...

iya nih,fi..
rindu memaknai ruang.. kaya waktu masih jadi mahasiswa. kita eksploratif banget ya dulu? ;)

ruang di sini hampa soalnya.. 'beautiful', but empty..

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates