porak poranda.

Baru saja selesai membaca bukunya Arswendo Atmowiloto, 3 Cinta 1 Pria. Buku yang menurut saya bisa diklasifikasikan sebagai sastra modern (agak sok tau). Tapi biarlah saya sok tau, toh tidak ada gunanya memberikan klasifikasi pada sesuatu hal yang sebenarnya memiliki hak untuk diekspresikan secara bebas dan leluasa, seperti tulisan.

Gara-gara buku ini, saya jadi jungkir balik.
Jungkir balik mewaraskan hati dan pikiran.. susah payah membuka peluang lubang baru, untuk memasukkan sebuah intisari pemikiran baru ke pemahaman yang sudah membatu.

Entahlah. Setelah membaca, saya merasa bibir saya memucat. Hati saya bergemuruh. Mata saya memandang kosong pada dinding. Cerita di buku ini tidak biasa, atau mungkin bisa dikatakan 'aneh'. Namun, memberikan definisi 'cinta' dan 'sayang' yang berbeda untuk saya.
Bukankah pemikiran umum selalu membedakan daerah putih dan hitam, sehingga daerah abu-abu itu tidak ada?
Seperti halnya memaknai perasaan "sayang" dan "cinta". Kalau sayang/cinta sama seseorang, maka tidak boleh sayang/cinta pada orang yang lain. Harus dan seharusnya begitu, itu kata khalayak ramai.
Padahal.. coba katakan.. siapa sih yang bisa membelenggu perasaan? Siapa yang bisa melarang perasaan? Bukankah itu abstrak, tidak bisa disentuh dan dihancurkan secara ragawi? Karena itu, ia datang dan pergi dengan sendirinya.. secara abstrak dan tidak kasat mata. Tidak diundang, tidak diusir. Tidak ada yang mengatur. Terserah padanya, ia hitam, putih, abu-abu, atau warna warni.

Buku ini bercerita tentang cinta dalam ruang lingkup yang sangat luas. Yang rentangnya bisa mencapai perbedaan usia puluhan tahun, untuk dua insan. Isinya mem-porak poranda-kan akal sehat.
Kenapa bisa begini dan begitu? Sampai lelah bertanya-tanya. Padahal intinya hanya tentang cara menyayangi yang berbeda.. Cara menyayangi ke banyak orang, yang walaupun banyak namun bukan berarti rasa sayang itu dicabang-cabangkan. Karena, memang perasaan sayang itu sendiri mempunyai ratusan jenis berbeda.. mempunyai ratusan spesies.. Bukan berarti berselingkuh atau tidak setia, namun karena menuruti ke-abu-abuan dan keabstrakan rasa sayang yang tidak bisa dibatasi secara fisik. Rasa sayang yang sudah melampaui ambang batas kepandaian manusia, sehingga saya mengerutkan kening sangat lama. Mencoba mengerik pemahaman dan meluluhkan hati.

Saya ingin tertawa keras-keras dan menangis tersedu di saat bersamaan. Menertawakan asumsi saya dan menangisi kenyataan di depan mata. Yang sebenarnya adalah benar, namun saya mencoba untuk sama dengan pemahaman general, sehingga kebenaran individu itu tertutupi oleh generalisasi pemikiran. Supaya tidak dicemooh dan dianggap tidak sesuai dengan norma-norma sosial yang ada.

Ah, bukankah dunia ini sudah diatur dengan norma? Padahal.. norma itu apa? Padahal.. manusia sendiri yang mencipta norma.. Padahal.. norma itu lahir karena kebiasaan yang diasumsikan sebagai kebenaran. Padahal.. kalau dipertanyakan, apa semua norma itu benar adanya? Bukankah ada seribu satu kemungkinan..kalau-kalau norma itu sebenarnya adalah salah?

Apalagi norma tentang ke-waras-an rasa sayang..

Baiklah, jika diamini saja. Kalau memang sayang.. ya sayang. Tidak usah diembel-embeli : "tetapi". Semuanya ada penjelasan, walaupun.. abstrak.

0 winds from friends and strangers:

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates