bangun.

sedari kemarin ingin bangkit,
beranjak dari dipan nyaman,
tapi tidak kuasa.
selimut yang dijadikan perisai masih menempel lekat di kulit,
ikut menemani melahap menit-menit kehidupan yang seharusnya dijalani dengan berdiri tegak.
bantal tipis juga masih ada di bawah kepala,
menyanggah tengkuk agar tidak pegal,
ikut menjadi saksi bisu saat mata yang bergantian memejam dan sesekali nyalang menatap tembok dan langit-langit putih.

niat itu tinggal niat.
niat untuk bangun.
niat mengalahkan matahari. niat menaklukkan rembulan.

semuanya terkubur di ruang ini.
ruang nyaman. ruang yang membuai. ruang yang membuat sendi-sendi melumpuh dan bertekuk lutut.
jatuh pasrah pada nasib.

padahal, seharusnya nasib bisa diubah.
itulah mengapa ada kata-kata "datang ke kota untuk mengubah nasib".
karena nasib bukan untuk dipatuhi.

kepala ini berat, seakan-akan begitu berjodoh dengan bantal.
mata ini malas membuka, seakan-akan bisa terbakar jika dibuka dan melihat cahaya terang.
selimut ini tidak bisa disingkap, seakan-akan memang sudah dijahit mati pada seprai garis-garis itu.

bangun.
cuci muka.
mandi.
mulailah hari baru.

ruang itu bukan untukmu.
memang nyaman, namun bukan untuk ditinggali selamanya.
mata harus membuka, melihat dunia, melihat masa depan.

bangun.

[january 29, 2009 : for the thought.. that I have to (really really have to) move on from this comfort zone.. pick up my dreams..]

2 winds from friends and strangers:

melur said...

kebanyakan begadang ato gimana vel? *__*

novel. said...

bukan mbak melur..

keenakan mimpi. musti cepet2 bangun nih..

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates