[meet me on my so-unlucky day]


Jarum panjang di jam tangan sudah melebihi angka 3. Jam 2.30 harusnya saya sudah ada di gereja, tapi sudah jam 2 lewat 15 menit, saya masih terjebak di Paragon, Orchard. Hujan, luar biasa deras. Dan, payung saya hilang entah kemana, raib, tidak bisa ditemukan di dalam tas. Saya harus naik bus dari halte bus yang ada di depan lucky plaza (ada di sebelah paragon, tapi tidak ada shelter untuk menuju ke halte itu). Otomatis, saya harus hujan-hujanan dengan mengempit tas anyaman rotan yang tidak memiliki penutup, isi tas saya terancam kuyup.
Luckily, saya membawa sweater -- yang saat berangkat dari rumah, teman saya mempertanyakan mengapa saya membawa sweater di hari yang terik. Sweater itu digunakan untuk melindungi kepala, supaya tidak basah basah amat. Tapi, toh tetap saja, air membasahi sekujur tubuh saya. Dan walaupun sudah sampai di halte bus, halte penuh dengan orang yang menunggu bus dan menghindar hujan.
Bus datang. Dan saya harus bertempur dengan orang-orang berpayung, yang notabene tetesan air dari besi-besi di pinggir payung menghujani saya dengan deras, untuk naik ke bus. Ada lelaki di sebelah saya, berpayung, namun sibuk cekakak-cekikik dengan teman-temannya dan menumpukan tangannya di lengan saya, mendorong saya ke samping dan membuat saya harus menahan berat badan tubuhnya. Luar biasa, saya harus menahan kesal dan dingin! Akhirnya, daripada saya tambah gondok, sekalian saja saya keluar dari lindungan shelter halte bus dan hujan-hujanan, menyelinap ke antrean paling depan dan segera menaikkan kaki ke tangga bus. Dan lagi-lagi harus berdesakkan dengan lelaki mengesalkan itu. Huh. Rambut saya sudah kuyup, baju juga, jeans apalagi.
Di dalam bus, jelaslah bahwa saya adalah orang ter-basah. Dengan cuek bebek, saya menyelinap dari orang-orang yang sibuk melipat payung dan teman-teman lelaki cekakak-cekikik itu, mencari tempat duduk kosong dan segera duduk.
Tahu tidak, luckily, saya membawa handuk kecil yang seharusnya tadi pagi saya keluarkan dari dalam tas. Handuk itu saya gunakan untuk mengeringkan rambut yang super basah dan mengelap lengan saya yang terbuka dan penuh titik-titik air.
Tadinya saya mau menelepon teman saya, supaya bisa dapat tumpangan payung. Tapi, dua teman saya juga terjebak di plaza singapura, tidak bawa payung. Akhirnya saya bergabung dengan mereka di plaza singapura karena di situ adalah halte bus terdekat dengan gereja saya.
Jam sudah menunjuk 2.30. Dan kami masih berputar-putar di bawah tanah, dengan bodohnya lupa jalan menuju seberang, tadinya berpikir pintar supaya tidak usah kena hujan saat menyeberang dan memilih jalan bawah tanah. Dan ternyata, kami tidak sepintar yang kami kira. Saat menaiki eskalator, malah muncul di sisi yang salah. Dan akhirnya tidak menemukan jalan, dan sudah terlambat 15 menit.
Ya sudah, melintasi jalan atas tanah adalah pilihan paling cepat dan relevan. Dengan tergesa, akhirnya sampai juga di gereja. Luckily, khotbah baru akan dimulai, walaupun kami sudah tertinggal urutan ibadah selama setengah jam.

Seusai beribadah, saya memang sudah berencana nonton,dengan Ofi. Tadinya akan menonton di Cathay Dhobby Ghaut, yang terdekat dengan gereja saya. Namun, karena Ofi masih di Orchard, akhirnya dia-lah yang membeli tiket nonton, di Shaw House. Biasanya, kami menonton di Shaw House, studio teater besar yang kualitasnya bagus dan cukup oke. Kali ini, kami dapat jatah studio Lido 4. Merunut dari pintu masuknya, kami meragu, saya dan Ofi mengerutkan kening. Pintu masuknya seperti akan masuk gudang. Dan saat melongok ke dalam, barulah kami menghela napas. Studionya kecil dan bangkunya sangat tidak nyaman. Lorong antar bangku sangat sempit dan tidak memungkinkan untuk duduk dengan nyaman.
Saat duduk pertama, saya dan Ofi ngakak. Entah geli karena menertawakan ke-sempit-an yang kami alami atau karena ke-tidak beruntung-an kami. Luckily, the movie wasn't that bad. Setidaknya, kami tertawa dan menikmatinya -- walaupun harus berdiri dan ngulet sehingga menimbulkan bunyi kretek-kretek di pinggang.

Tahu tidak mengapa saya tuliskan sepanjang ini tentang my so-unlucky day,, tapi yang di-bold justru kata-kata "luckily"?

Untuk menunjukkan, kalo ternyata di balik semua kesialan..masih ada keberuntungan.
Justru karena saya sering sial, makanya saya jadi bisa mensyukuri apa yang saya rasakan sebagai sebuah keberuntungan, sekecil apa pun.

Saya dan teman saya sering sekali membicarakan beberapa orang teman, yang kami nilai punya hidup nearly-perfect and so-lucky. Mereka beruntung, bisa dapat nilai bagus walaupun tidak berusaha saat ujian. Mereka beruntung, bisa keliling dunia tanpa harus bekerja keras. Mereka beruntung, tidak harus mengalami kisah cinta tragis. Mereka beruntung, bisa meminta mobil dan pakaian bagus tanpa harus menabung.
..mereka beruntung..

But, please don't only see those bright sides.

Saya jadi bertanya-tanya.. Dengan semua sisi keberuntungan itu? Bukankah titik bersyukur jadi menurun? Sama halnya dengan keadaan : selalu akan ada tidak sakit, di saat ada sakit. Seperti dua mata koin, bersebelahan dan tidak bisa dipisahkan.

Jadi, merasa beruntunglah di saat mengalami ketidakberuntungan.
Lihatlah sisi yang positif, di antara ke-negatif-an.
I believe, you'll smile, easily.

2 winds from friends and strangers:

Metamorphosophia said...

Insya Allah, Tuhan adil terhadap semua makhlukNya. Mungkin Dia memberikan "sedikit keberuntungan, tapi banyak KEMAMPUAN"
sehingga kita dpt menggunakan kemampuan itu untuk memperoleh sesuatu, begitu sebaliknya...mungkin ada yang di kasih :
"sedikit kemampuan tapi banyak KEBERUNTUNGAN"
Insya Allah semua itu seimbang :)

Mensyukuri.....menikmati...2 hal yang saling berkaitan....
Kadang kita menikmati sesuatu hal, sehingga kita lalu bersyukur, tapi kadang kala keadaan tak selamanya indah...maka kita dapat membaliknya...bersyukurlah, maka kita akan menikmatinya :p

Sebenernya semuanya saling berkaitan...antara keberuntungan-kemampuan, menikimati-mensyukuri...
saat kita memperoleh dengan usaha (kemapuan kita), maka kita akan lebih merasakan kepuasan dalam menikmatinya..yang insya Allah membuat kita lebih dapat mensyukuri (karena kita menyadari, dengan usaha kita memperolehnya). Iya kan ? :p

novel. said...

iya fi.
saya pusing dengan filosofimu. hehe.

ngerti ngerti kok.

berarti gue, mb dewi, winni..orang2 yang banyak kemampuan dnks. hihi, amin! :D

dan.."mereka" itu? ga banyak kemampuan? hehe. [malah mengambil kesimpulan yang salah..]

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates