[malu]

Semalam saya kurang tidur.
Akibat sebuah email yang ditunjukkan oleh seorang teman. Bukan email tentang setan yang mengerikan. Namun, ini jauh lebih mengerikan, membuat bulu kuduk berdiri dan hati terbakar amarah dan malu. Malu sebagai warga negara dan berdarah asli Indonesia.

Email tersebut datang dari Cina, dan menunjukkan gambar wanita-wanita yang diperkosa saat kejadian Mei 1998. Benar-benar dengan gamblang menyajikan pemandangan yang membuat saya menyipitkan mata, dan seketika mengutuk para pelaku perkosaan.
Wanita-wanita tersebut adalah warga keturunan yang bertinggal di Indonesia, semuanya berdarah keturunan Tionghoa (Chinese).

Di email itu dilampirkan wajah-wajah mereka yang masih tersenyum dan bersih, dan di sisi gambar 'bersih' tersebut adalah gambar telanjang mereka yang ditemukan sudah tidak bernyawa - memar-memar, berdarah-darah, dan sangat mengenaskan.

What the he** were they doing?

Berkali-kali saya mengucap doa. Dan berkali-kali pula saya mengutuki para pemerkosa yang tidak berhati nurani sebagai manusia.

Di akhir artikel tersebut, ada sederet kalimat berwarna merah dalam bahasa Inggris. Artinya kira-kira demikian : "SUDAH TERLALU BANYAK ORANG INDONESIA DI NEGARA KITA. JANGAN BIARKAN HAL INI TERJADI. INI YANG TELAH MEREKA LAKUKAN TERHADAP KITA!"

Lihat apa yang sudah mereka lakukan. Mencoreng nama Indonesia.

Saya lalu bertanya, inikah reformasi?
Kebebasan melakukan "apa saja"?
Kebebasan melakukan tindakan biadab?
Kebebasan melakukan tindakan rasial dan mengakibatkan pencabutan nyawa?
Kebebasan menginjak-injak harga diri orang lain?
Kebebasan apa?

Memalukan.

Setelah melihat artikel tersebut, saya mendengar cerita dari teman saya. Tentang bagaimana dia melewati masa-masa suram Mei 1998. Tentang bagaimana dia tidur dengan mengenakan sepatu dan tas ransel berisi surat-surat penting yang siap diangkut kapan saja, saking takutnya kalau rumahnya akan dibakar. Tentang bagaimana temannya berlari-lari dari atap rumah satu ke atap rumah lain karena dikejar massa. Tentang bagaimana ketakutannya saat itu. Tentang hal-hal yang baru saya ketahui setelah lebih dari 10 tahun berlalu.
Dan cerita itu diakhiri dengan, "Itulah kenapa gue lebih milih nggak balik lagi ke Indonesia, Vel."
Hati saya mencelos. Seperti diremas dengan keras.
..dan, detik itu juga saya mafhum.

Saya menelan semua perkataan saya tentang betapa pentingnya kembali ke Republik Indonesia.

Buat saya : Ya, memang penting.
Namun, bagi mereka para warga keturunan yang mengalami tindakan rasis seumur hidup mereka di Indonesia? Mungkin kembali ke RI adalah pilihan terakhir yang akan dipilih.
Mari berkaca, menoleh ke diri sendiri. What have you done to your friend? Look what we've done in the past!Sebuah pengalaman traumatis, yang menyakiti diri mereka di dalam, menyakiti harga diri mereka sebagai manusia.
Kalau di antara kita masih ada yang sering bertindak rasis, pikirkanlah kembali perbuatan itu..kembalikan pada diri sendiri dan tempatkanlah posisi kita ada di sana, korban diskriminatif yang dikorbankan dengan puluhan nyawa.
Dan seharusnya kita malu..

Teman.. maafkanlah bangsa ini..

0 winds from friends and strangers:

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates