[Vending Machine] World.

Kenapa Vending Machine?

Berikut penjelasannya.

Sebenarnya ini hanya sebuah pandangan gila (baca : sinting).

Beberapa hari belakangan ini, kepala saya dihantui sesuatu, pemikiran yang tiba-tiba muncul begitu saja.

"Saya bersyukur akan keadaan Jakarta yang 'manusiawi'."

Manusiawi dalam konteks ini maksudnya adalah : me-manusia-kan apa yang bisa di-manusia-kan.

Bingung?

Begini contohnya :

[1. Datang ke stasiun kereta api.]

Saya akan beli tiket di loket. Dan saya dilayani oleh manusia. --- bukan mengisi kartu serbaguna dengan mesin)

Saat akan masuk ke peron, tiket saya akan diperiksa oleh manusia. --- bukan men-tab kartu serbaguna di mesin.

Di atas kereta, manusia-lah yang berkeliling dengan alat 'pembolong manual', nan tidak canggih. --- bukan menunggu keluar peron tujuan dan kembali men-tab kartu di mesin.

[2. Haus? Ingin minum?]

Saya akan jalan ke warung. Berkomunikasi dengan penjaga warung, yang notabene adalah manusia.

"Bu, saya beli Aqua satu."
Si ibu akan mengambil Aqua dari mesin pendingin.
"Berapa, Bu?"
"Dua rebu, neng."
Saya ulurkan uang dua ribu rupiah kepada si ibu.


--- bukannya pergi ke mesin jual minum dengan memasukkan uang koin ke dalam lubang. Dan air mineral akan keluar dari lubang yang lain.

[3. Saya mau naik busway.]

Walaupun termasuk kiwari, namun pelayanan jual-beli tiket, masih dilayani manusia. Memasuki ruang tunggu, selalu dijaga oleh manusia. Dan saat akan masuk ke bus, diarahkan oleh manusia juga. --- bukan memasuki halte yang sepi dari manusia, mengandalkan kamera cctv dan tombol-tombol panggilan darurat yang lain.

[4. Naik mobil.]

Saat mengendarai mobil, kita pasti menggunakan fasilitas jalan tol atau jalan bebas hambatan. Wajib membayar uang tol, dan kita membayar tol ke petugas jaga tol yang adalah manusia.

Dan saat akan parkir, walaupun sudah menggunakan sistem security parking, namun pembayaran dilakukan masih secara tunai kepada manusia penjaga gedung parkir.

--- bukan dengan menggunakan alat digital yang di-scan secara otomatis oleh alat-alat canggih di pintu tol.

[5. Ke perpustakaan.]

Saat akan meminjam dan mengembalikan buku, saya akan datang ke meja peminjaman dan nama saya akan dicatat oleh petugas, manusia. --- bukan dengan komputer dan men-scan barcode buku yang dilakukan sendiri tanpa ada petugas penjaga perpustakaan.

Fiuh. Untunglah semunya masih manusia.

Apa yang terjadi di Singapore, semuanya mesin, dan kenyataannya memang sangat membantu mempercepat pergerakan dan menghemat waktu. Namun, keseharian yang saya alami justru membuat saya bergidik. We're steps closer to the Wall E's world. I'm not kidding. Mesin yang mengatur semuanya dan kita tergantung pada semua per-mesin-an tersebut.

We're steps closer to the Eagle Eye's world. I'm not trying to be funny. Mesin yang menjadi pegangan hidup dan semua aktivitas ke-manusia-an diatur olehnya.

Akankah semua tenaga kerja manusia digantikan oleh mesin? Padahal, pekerjaan-pekerjaan kecil semacam itulah yang menjadi sumber penghidupan masyarakat kecil di Indonesia (Jakarta, pada khususnya).

Dan, kenyataan yang mudah untuk dibayangkan adalah..

Akankah mall hanya akan diisi oleh Vending Machine? Dan antrian panjang manusia yang meng-ular bukan hanya di mesin ATM..namun di setiap mesin belanja yang ada.


[Doa saya : Jangan sampai!!]

0 winds from friends and strangers:

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates