ENT / THT.

Saya bangkrut.

Begini ceritanya.
Saya punya gangguan dengan telinga saya, sering tersumbat. Kalau di Indonesia, saya selalu ke dokter 3 bulan sekali dan dibersihkan dengan alat "penyedot". Nah, sebelum berangkat ke Singapore, saya sudah ke dokter untuk jaga-jaga supaya tidak terjadi masalah dengan telinga saya, setidaknya sampai saya pulang saat Natal. Saya tidak pernah membersihkan telinga sendiri, karena dokter saya bilang kalau saluran telinga saya membengkok. Dan kalau dibersihkan sendiri, bisa-bisa kotorannya akan makin masuk ke dalam dan mengakibatkan saya tidak bisa mendengar. Jadi, saya agak takut kalau membersihkan telinga sendiri, karena bisa menyebabkan saya "tuli".

Namun.
Empat hari yang lalu, saya melakukan kebodohan karena rasa penasaran yang terlalu berlebihan. Telinga saya terasa tidak enak, jadi saya memberanikan diri untuk membersihkan telinga sendiri dengan cotton bud. Namun, baru saja cotton bud masuk ke telinga, telinga saya langsung tidak bisa mendengar. Saluran pendengaran saya tertutup!!! Saya langsung panik. Masalahnya, saya tidak di Jakarta dan tidak berpengalaman pergi ke dokter di Singapore. Lalu, saya mencoba memasukkan cotton bud kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya sambil berharap salurannya bisa terbuka. Namun, usaha saya sia-sia.

Akhirnya, keesokan harinya saya pergi bekerja dengan telinga kanan yang hanya bisa mendengar samar-samar. Keseimbangan terganggu dan kenyamanan ikut terganggu. Tersiksa. Sepulang kerja, saya pergi ke Singapore General Hospital (SGH), berencana ke ENT (Ear Nose Throat / THT) untuk segera menyelesaikan masalah telinga saya. Namun, sialnya, praktek ENT hanya sampai jam 6 sore. Terpaksa, saya baru bisa ke dokter saat akhir pekan. Dan, saya menjalani sisa tiga hari kerja saya dengan telinga tertutup sebelah. Argh!

Hari ini, saya langsung ke SGH. Ingin segera mengeluarkan isi telinga yang memblokir pendengaran saya. Namun, apa daya, ENT di SGH tidak ada dokter yang stand by. Akhirnya memutar otak. Ada dua pilihan : ke National University Hospital, yang notabene tempatnya jauh dari SGH tapi murah, atau ke Raffles Hospital, yang dekat dan harganya medium.

Setelah menimbang waktu (saat itu sudah jam 11.50, RS tutup jam 1 di hari Sabtu), akhirnya diputuskanlah untuk pergi ke Raffles Hospital. Saya langsung menelepon Raffles Hospital untuk membuat janji, dan saya disuruh datang jam 12.15. Dari SGH, saya buru-buru naik taksi supaya sampai tepat waktu.

Di Raffles, dengan setengah berlari dan deg-degan saya langsung ke lantai 2 dan datang ke meja registrasi. Saya disuruh mengisi formulir, dan setelahnya disuruh menunggu di luar pintu 6 (katanya : di luar bilik 6, hehe). Tidak sampai 10 menit, nama saya dipanggil (nama saya menjadi Ms. Delima - nama belakang saya dan sama sekali bukan nama keluarga saya) untuk masuk ke pintu 5.

Dokter yang ada berpakaian kemeja putih dan dasi (tanpa seragam putih khas dokter) dan bertampang ramah. Dia bertanya keluhan saya. Saya langsung menceritakan kalau saya tidak bisa mendengar di telinga kanan karena bla bla bla (saya ceritakan saran dari dokter saya di Jakarta, bahwa saya disarankan untuk tidak membersihkan telinga sendiri, dll.).
Lalu dia geleng-geleng kepala.
"Haiyya. This is common problem lah. You must maintain you ears."
"But, doc, my doctor said that.."
"No lah."

Dia lalu duduk di samping saya, yang duduk di kursi periksa khas dokter THT.
"Haiyya..," dia geleng-geleng kepala, "so many wax ah."
Aduh, saya jadi malu. Dan memberikan pembelaan sekali lagi. "That's because I followed what my doctor asked me to do."
"You have to maintain lah. Then there will be no more wax in your ears."

Lalu, dia mulai membersihkan telinga kiri saya. Dan kemudian telinga kanan saya. Saat pembersihan telinga kanan, arghhh, sakit. Setelah menahan sakit dengan mengeluarkan seruan "ouch!" dan angkat-angkat bahu sedikit mengisyaratkan 'sakit', akhirnya selesai juga treatment and procedure tersebut.

Lega!
Saya bisa mendengar dengan jelas lagi, tanpa bunyi berdengung di telinga kanan.

Pak dokter menertawakan saya dan mengingatkan sekali lagi kalau saya harus me-maintain telinga dan menegaskan bahwa sebenarnya tidak ada saluran membengkok di telinga saya.
Saya ber-ok-ok dan mengucapkan terimakasih padanya.

Setelah itu, saya menunggu tagihan saya dikalkulasikan sambil menunggu disofa. Harap-harap cemas, berapa kira-kira nominal yang ditagihkan.

Nama saya dipanggil lagi : Ms. Delima.
Saya menghampiri kasir.
"So, the total would be $145.50."
Dalam hati berteriak, "WHATTT!!!".
Namun, dengan berat hati saya keluarkan kartu debit dan menggeseknya.
$145.50 melayang.

Padahal kalau mau dibandingkan dengan dokter di Jakarta, prosedur semacam itu hanya akan dikenai Rp 200.000 paling mahal.

Mari, me-maintain telinga. Pergi ke dokter spesialis di Singapore mahal!

Comments

Popular Posts