Wajib Bela Negara


Judul post ini cenderung terdengar seperti pembelaan negara saat mau perang. Padahal tidak ada hubungannya.

Ini sebuah post yang isinya dilema. Bukan dilema saya. Tapi dilema banyak orang..hmm..mungkin.

Sejak pertama kali angkat kaki dari Republik Indonesia, saya tahu kalau saya pasti akan kembali lagi ke negara saya. Bukan sok nasionalis, bukan sok negaraisme, tapi..saya butuh ada di dalam lindungan negara saya..ada di bawah merah putih..menjadi bagian dari komunitas WNI.

Ini pemaparan dilema banyak orang.
Sudah sering bicara dengan orang-orang yang ada di Singapore, semuanya WNI yang sedang bertinggal di Singapore. Mereka bertanya-tanya, "apakah akan kembali ke Indonesia?" atau "kapan ya kembali ke Indonesia?".
Kalau semua pertanyaan itu dirangkum dan dianalisa, maka satu-satunya kesimpulan adalah berujung pada uang.

Bayaran kerja di Singapore memang tinggi, dan kalau dikurskan ke rupiah maka akan lebih tinggi lagi. Faktor inilah yang membuat dilema. Saya pun yakin, saat saya kembali bekerja di Indonesia, maka akan mengalami salary-shock..hal yang wajar karena standar hidup pun berbeda.

Saya paparkan perbandingan sederhana dari hidup sehari-hari saya.
Dengan gaji Singapore, saya bisa dengan senang hati membeli body lotion dan bathing foam dari Bodyshop seharga rata-rata $20-an.
Dengan gaji Indonesia, saya akan berpikir 3 kali untuk membeli produk Bodyshop mana pun dengan rate harga sama dengan harga Singapore dalam rupiah.

Hal ihwal uang bisa menjadi dilema terbesar bagi para warga negara Indonesia untuk kembali ke Indonesia.

Perkara yang lain ialah masalah berkehidupan sehari-hari yang cenderung lebih "rawan" di Indonesia. Masalah jam malam dimana para "penjahat" mulai berkeliaran, masalah kenyamanan transportasi dengan para "copet", dll.

Banyak sekali poin yang bisa ditulis mengenai pertimbangan-pertimbangan kembali ke Indonesia.

Namun, pernahkah muncul di benak kita..

Hidup di negeri sendiri lebih enak dibanding hidup di negeri orang.

Maka, akan muncullah berbagai respon menanggapi pernyataan di atas..

"Apa enaknya?"
"Memangnya apa yang negara kasih untuk kita? Nggak ada kan?"
"Ah isinya koruptor semua, apa-apa bayar..nggak ada yang gratis."
"Negara kita tuh nggak bakal membaik keadaannya.."

Coba, introspeksi ke dalam hati masing-masing. Kalau semua respon yang diberikan semuanya bernada pesimis..maka dengan sendirinya..negara kita akan jadi seperti apa yang terdengar di respon-respon di atas.

Apa yang negara kasih buat kita?
Coba tanyakan pada diri sendiri..apa yang sudah kita berikan untuk negara? Bayangkan kalau pahlawan-pahlawan jaman dulu berpikir demikian..negara RI tidak akan pernah merdeka sampai saat ini. Butuh pengorbanan untuk mendapatkan apa yang menjadi hak kita. Masih ingat kan sederet kalimat "mendahulukan kewajiban daripada hak"?

Ah isinya koruptor semua, apa-apa bayar..nggak ada yang gratis.
Bukannya di semua negara demikian? Semuanya harus bayar, anggap saja itu untuk biaya operasional pemerintah untuk menjalankan negara.
Coba hitung, berapa banyak pekerja di Indonesia yang punya NPWP? Pasti hanya pekerja-pekerja di kantor-kantor besar..itu pun bukan dengan kesadaran pribadi.
Pajak yang harus dibayarkan per tahun oleh setiap orang adalah sejumlah uang yang seharusnya bisa dipakai untuk perbaikan negara kita, baik infrastuktur maupun untuk meringankan beban masyarakat miskin. Sedangkan kita, selalu apatis dan skeptis dengan masalah-masalah demikian.

Coba bandingkan..apa yang kita dapati di Singapore. Semuanya terawat baik dan minim kejahatan. Mengapa?
... Karena kita bayar pajak, 15% dari penghasilan setahun diwajibkan dibayarkan kepada pemerintah Singapore (untuk work permit holder).
Untuk Permanent Resident wajib membayar 5% dari penghasilan per bulan, setiap bulannya, untuk tahun pertama. Dan 15% untuk tahun-tahun berikutnya.
Semua pajak itu, bisa diambil untuk keperluan-keperluan mendesak, seperti sekolah, rumah sakit, cicilan rumah, dll. Bahkan warga negara Singapore, setiap bulannya mendapat tunjangan cuma-cuma dari pemerintahnya, karena pendapatan pajak itu.
Terlihat kan apa gunanya pajak? Untuk negara orang saja kita bisa membayar, masa untuk negara sendiri kita masih harus itung-itungan?

Negara kita tuh nggak akan membaik..
Ya, anda berkata demikian dengan mudahnya. Padahal, anda belum berjuang apa-apa untuk memperbaiki keadaan Indonesia. *saya menarik napas panjang*

Semoga apa yang saya tulis bisa mengubah pola pikir kita semua.
Semua yang "buruk" keadaannya di negara kita, semata-mata bukan untuk ditinggalkan dan tidak dipedulikan. Kalau semua orang meninggalkan dan acuh, maka sampai di sini saja-lah merah putih yang dulu mati-matian direbut dari Belanda dan Jepang oleh pahlawan-pahlawan bangsa.
Jangan sampai proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, hanyalah tinggal sepenggal teks yang terus-terusan dibacakan setiap tahunnya.
Butuh wujud nyata untuk terus menegakkan bendera merah putih.

Pertanyaan saya sekarang..
Dilema itu, masihkah terus bergolak di dada?

0 winds from friends and strangers:

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates