Sebarkan Virus Copet.

Semakin ke arah sini, kehidupan makin digital. Semuanya serba mesin, serba canggih, serba otomatis, dan serba serbi lain. Padahal kalau menengok sepuluh tahun lalu, perkembangan belum sampai sejauh ini (atau karena sepuluh tahun lalu, saya masih ada di Indonesia?).

Sejak tinggal di negara ini, saya jadi mulai termakan rayuan digital dengan segala iming-iming kemudahannya. Hal sederhana yang saya alami dan memperbandingkannya dengan kehidupan sehari-hari saya di Jakarta, adalah menggunakan transportasi umum. Hanya dibutuhkan satu kartu serbaguna untuk menaiki semua jenis transportasi umum (MRT dan bus, kecuali taksi yang harus membayar dengan uang atau Nets; sebutan untuk kartu ATM yang bisa dipakai untuk kartu debit). Kalau naik bus atau kereta di Jakarta, saya mengantri di loket untuk membeli tiket sekali jalan. Di atas kereta, kadang-kadang tidak diperiksa oleh petugasnya. Kalau naik bus, bisa diberhentikan di pinggir jalan dan tinggal menaikkan kaki dengan cepat (kalau tidak cepat, takutnya bisa jatuh karena supir bus mengejar setoran dan cenderung buru-buru). Sistem pembayaran ongkos bus, harus menunggu kenek bus menggemerincingkan uang receh yang digenggam di tangannya (pertanda dia meminta ongkos pada penumpang yang belum bayar), kita tinggal menyodorkan sejumlah uang padanya. Sistem tradisional (atau bisa disebut ketinggalan jaman?) yang masih berlaku di Indonesia, di Jakarta pada khususnya. Di transportasi umum semacam itu, orang-orang jarang menggunakan berbagai macam asesoris elektronik karena isu copet yang terus merambah naik jumlahnya. Kebanyakan malah tidur, melihat-lihat ke luar jendela, atau mengajak ngobrol orang yang duduk di sebelahnya sekadar basa-basi.

Hal ini berbeda ratusan derajat dengan kehidupan di sini. Semua orang sibuk dengan gadget masing-masing, memiliki ruang diri masing-masing yang tingkat privasinya tinggi. Anak-anak muda asyik dengan PSP-nya, menenggelamkan diri pada dunia permainan maya di layar mini pada alat elektronik yang digenggamnya. Orang-orang lain menerawangkan mata, memandang ke kaca MRT yang gelap atau ke arah depan bus dengan earphone melekat kuat di telinga, mendendangkan lagu-lagu dari perangkat ipod atau mp4. Yang lain, sibuk mengutak-atik handphone yang notabene sudah canggih, PDA atau iPhone, sibuk mengirim email, sms, atau sekadar bermain game. Dan ada juga yang membuka laptopnya dan berkonsentrasi bekerja.

Ah, betapa berbedanya.
Tingkat gesekan sosial di sini sangat minim, karena semuanya serba digital dan tidak memungkinkan komunikasi antar manusia. Bahkan mereka enggan memulai basa-basi ramah pada "tetangga" yang duduk di sebelahnya.
Kemarin saya naik bus Trans Jakarta waktu pulang ke Jakarta. Saya masih awam dengan jalur busway dan pergeseran buka-tutup pintunya. Saat akan sampai ke halte Dukuh Atas (kalau tidak salah), saya berdiri sangat dekat dengan pintu.
Lalu, ada seorang bapak yang menegur saya, "Mbak, hati-hati..agak munduran dikit. Soalnya pintu yang dibuka pintu ini, ntar mbak bisa kena pintu loh." Saya merasa kena tegur dan di hati saya merasa tersentuh. Betapa berbedanya hidup bersosialisasi di negara tumpah darah saya ini. Saya lalu tersenyum dan mengucapkan terimakasih pada si bapak.
Di Singapur, pergeseran buka-tutup pintu juga terjadi di beberapa stasiun MRT. Masih ada saja orang yang tidak terlalu mengerti dan hapal tentang pintu mana yang akan membuka di stasiun-stasiun tertentu, dan tidak jarang penumpang yang hampir terjatuh saat pintu akan dibuka karena dia menyangka pintu yang dibuka adalah di arah yang berseberangan. Orang-orang di sekelilingnya tidak ada yang memperingatkan, semuanya hanya akan memandang kosong pada orang yang hampir terjatuh itu..apalagi para penikmat dunia digital yang selalu asyik dengan dunianya sendiri.

Penggunaan sistem digital sangat berpengaruh pada dunia sosialiasi verbal dan interaksi langsung antar sesama manusia. Saya jadi sedikit membenarkan mengenai prediksi dunia di masa yang akan datang, di film Wall-E. Semuanya terlalu bergantung pada ke-digital-an, pada alat elektronik, pada hal-hal otomatis, pada komputer, sehingga mereduksi hal-hal nyata yang seharusnya bisa dialami secara langsung (ingat kan adegan : manusia yang terus-terusan hanya menatap monitor untuk mengobrol dengan orang lain, sehingga tidak menyadari kalau di "dunia" itu punya kolam renang?).

Mungkin di Singapur perlu disebarkan virus copet, agar supaya para pengguna transportasi umum tidak lagi mengeluarkan gadget berharga ratusan dollar saat sedang bepergian. Supaya para penduduk Singapur membuka mata dan melakukan interaksi sosial secara langsung dengan manusia, bukan dengan alat-alat digitalnya.

Tinggalkan PSP, ipod, mp4, handphone, dan laptop. Ada copet!

0 winds from friends and strangers:

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates