Pulang - suara hari perantau.


[rumah saya - modelling and rendering by leon, my brother]


PULANG.
Sebuah term menarik yang selalu menggugah jantung untuk berdesir.

pu·lang v pergi ke rumah atau ke tempat asalnya; kembali (ke); balik (ke):
-- asal 1 kembali ke asalnya; 2 kembali kpd keadaan yg semula; -- balik 1 pulang dan pergi (dr suatu tempat ke tempat lain dan dr tempat yg dituju itu kembali ke tempat semula); 2 ke sana kemari; hilir mudik; mondar-mandir.
(http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php)

Dalam kamus.net, pulang ditranslasikan dengan kata homeward atau go home.

Dan dalam dictionary.com, homeward diartikan sebagai :
homeward
adjective
1. oriented toward home; "in a homeward direction"; "homeward-bound commuters"
adverb
1. toward home; "fought his way homeward through the deep snow"


Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut, pulang memiliki kedekatan makna dengan kata rumah. Rumah adalah tempat saya merasa nyaman, melepas lelah dan penat, dan menanggalkan segala atribut keseharian.

Kemarin, saya benar-benar merasakan betapa saya rindu rumah, betapa pentingnya saya pulang. Sepulang dari kantor, sekitar pukul 7 baru keluar dari gedung besar berwarna biru-kuning, yang mencolok mata. Duduk menunggu bus di halte, hingga sampai di stasiun MRT Clementi memakan waktu setengah jam. Dan perjalanan MRT dari Clementi hingga Eunos, memakan waktu hampir 40 menit. Dari Stasiun MRT EUnos hingga sampai ke rumah, memakan waktu 7 menit. Perjalanan panjang yang totalnya lebih dari satu jam itu harus saya tempuh dengan menahan lapar. Rasa lapar luar biasa "memaksa" saya mengeluh kelaparan dan ingin segera pulang, segera sampai di rumah. Tiba-tiba saya tersadar, HDB yang saya sewa bersama dengan 5 orang teman saya, telah menjadi sebuah tempat berpulang setiap hari.

Dulu, saya tidak pernah ingin menjadikan HDB itu menjadi rumah, saya menganggapnya hanya sebagai tempat bertinggal sementara, yang terlalu terburu-buru dinilai "tidak pantas" sebagai tempat berpulang. Saya ingin hanya merasakan pulang ke rumah di Jakarta, sebuah rumah yang menapak tanah di kawasan Jakarta Selatan, tempat saya merunduk dan merebahkan semua penat, asa, maupun kebahagiaan selama 5 tahun terakhir.
Makna pulang itu telah bergeser dengan sendirinya, dan berpindah tanpa saya sadari. Tempat yang secara berkala saya datangi dan menjadi kebiasaan sehari-hari, telah diberi judul "pulang" dan telah diberi label "rumah".
HDB, eks rumah sebuah keluarga Pakistan bernama Asif, telah saya sadari menjadi rumah saya di Singapore ini. Sebuah tempat penampungan para perantau yang mengadu nasib di negara orang, yang didatangi saat sore sudah menjelang malam di setiap hari kerja, tempat berteduh saat hujan maupun panas, dan tempat berinteraksi sosial satu dengan yang lain. Tempat kami berbagi cerita hingga larut malam, mengasah kemampuan memasak, bersih-bersih rumah, dan mencuci-menjemur baju, hingga ada yang mendapat predikat sarjana bersih-bersih rumah, sarjana memasak, maupun sarjana jemur baju. Unit HDB flat yang terletak di lantai 4 inilah yang akan jadi rumah kami, setidaknya hingga bulan Mei 2009, tempat kami melindungi diri dari lingkungan luar dan meringkuk nyaman di ranjang masing-masing.

Pulang. Apakah rasanya masih berdesir? Ya, berdesir gembira, menimbulkan euforia yang muncul setiap jarum jam sudah melebihi angka 5 di sore hari. Membayangkan melepas sepatu, mengganti atribut baju kerja dengan baju kaos longgar dan celana kain yang nyaman, mengangkat kaki di sofa, dan menyiram tubuh dengan air hangat. Hari ini, saya pasti pulang, ke rumah di perantauan saya.

Dan suatu saat nanti, saya juga akan benar-benar pulang ke rumah.

0 winds from friends and strangers:

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates