Menyeruak Kembali.


Salah satu sahabat terbaik saya, kemarin mampir ke Singapura untuk transit, sebelum melanjutkan perjalanan panjangnya ke Manchester.
Sahabat saya ini akan melanjutkan studi S2-nya di Inggris, University of Sheffield, mengambil master di bidang arsitektur (yang saya sendiri sulit menyebutkan spesialisasinya). Sebulan yang lalu, dia juga baru kembali ke Indonesia, setelah sebelumnya sempat magang selama 3 bulan di Singapura untuk memenuhi salah satu prasyarat mengambil studi S2-nya.

Saat mengantar kepulangannya ke Indonesia sebulan yang lalu, kami berdua menangis, seperti sama-sama akan ditinggal oleh pacar. Tapi, rasanya memang demikian sedih, kehilangan yang akan sangat terasa di ruang kosong hati, seorang sahabat yang pergi jauh. Kealpaan yang mungkin akan sangat mengganggu di saat merindu momen-momen bersama yang telah dibagi selama hampir 5 tahun.
Tapi, toh hidup memang harus berjalan, entah suka ataupun tidak suka, dan setiap orang akan menjalani jalannya masing-masing.

Kepergiannya yang kedua kali dari Singapura kemarin, diantarkan oleh saya dan beberapa teman saya. Kabarnya dia akan transit selama 4 jam, waktu yang cukup panjang untuk melepas kangen dan bercerita panjang lebar. Namun, harapan itu harus segera pupus dikarenakan banyak masalah dan hal yang harus diurus sebelum akhirnya bisa bertemu dengannya, dan juga karena waktu boarding yang mepet. Alhasil kami hanya bisa bertemu selama 1 jam, setelah sebelumnya sempat main kucing-kucingan di terminal 1, terminal 2, dan terminal 3 Changi Airport karena simpang siur komunikasi. Dan akhirnya kami bisa bertemu di Terminal 3. Sahabat saya sudah menunggu dengan beberapa barang bawaan yang akan dibawa masuk ke kabin (dia berangkat ke Inggris, berdua dengan kakaknya yang juga akan mengambil studi master). Kami berbincang, melepas rindu, dan saling berbagi beberapa cerita yang belum sempat terbagi selama sebulan sejak kepulangannya.
Sebulan berlalu sangat cepat, tak terasa dia sudah kembali menginjakkan kaki lagi di Changi. Namun, kali ini, bukan untuk datang ke Singapura ataupun pulang ke Jakarta, tapi untuk bertolak lebih jauh lagi ke benua Eropa.

Setelah satu jam, dia harus bergegas masuk kembali untuk boarding, melewati imigrasi, dan lain-lain, tandanya waktu kami bercengkerama pun harus segera disudahi. Hati tidak rela, mata pun demikian, masih banyak yang ingin dibagi, masih banyak yang ingin meluncur ke luar dari bibir, tapi jarum jam terus bergerak maju, dengan cepat menghabiskan menit demi menit.
Hanya sebentuk perhatian yang mampu kami hantar, dengan menemui dan mengantarkan ke babak yang lebih baru lagi. Mungkin jutaan kata tak akan pernah habis kalau kita masih duduk bersebelahan dan mengobrol. Saya dan teman-teman saya, pasti merasa sedih. Namun, saya sadar, sahabat sayalah yang paling sedih, dia-lah yang meninggalkan banyak orang yang dia sayangi, keluarga, kekasih, dan sahabat-sahabat.

Kami iringi langkahnya menuju sebaris dinding kaca yang akan menjadi pemisah pengantar dan yang diantar. Hanya sampai di sini kami bisa menemani, selanjutnya..sampai bertemu dalam hitungan tahun (semoga bisa kurang dari setahun). Semoga pelukan dan jabat tangan perpisahan bisa menghangatkan hati masing-masing, hingga kita bertemu lagi. Akan saya tunggu pertemuan kita selanjutnya, dengan setumpuk cerita baru dari bibir masing-masing.

Lagi-lagi sebentuk perasaan kosong menggagah dan menyeruak di hati saya. Namun, saya tarik napas dalam-dalam dan panjang, mencoba berdamai dengannya. Ya, saya tahu, ia bernama 'kehilangan'.

3 winds from friends and strangers:

mustikasari sayuti said...

novelll.. terharuu..

novel. said...

daku menangis,mus..

(jangan bilang siapa2 yah,,hehe)

mustikasari sayuti said...

iyaaa... :)

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates