ber-Lebaran.

Saya memang beragama non-Muslim, tapi saya tumbuh di lingkungan yang mayoritas beragama Islam. Sedari kecil, selalu mendengarkan adzan Maghrib di televisi, merasakan gegap gempita Ramadhan, dan menyaksikan perayaan Idul Fitri maupun Idul Adha di lingkungan sekitar saya.

Sekarang, saya tinggal di negara yang mayoritas penduduknya non-Muslim, dimana agama Islam bukanlah mayoritas..dan entah mengapa terasa ada ritual tahunan yang hilang..tiba-tiba alpa dalam kalender tahunan saya.

Bulan Ramadhan di Singapore terasa hambar. Tidak ada acara televisi yang berbondong-bondong menghadirkan sinetron Ramadhan. Tidak ada pagar atau kentongan yang dipukul-pukul di pagi hari. Tidak ada kultum yang kerap menjadi acara wajib setiap stasiun televisi. Kesantunan tidak makan dan minum di ruang publik pun terhapus, karena toh sebagian besar masyarakat tidaklah menjalankan ibadah puasa.

Serasa aneh dan tidak nyata suasana bulan Ramadhan di negara ini. Seperti halnya mengetahui apa yang seharusnya "ada", tapi terasa kabur dalam nyata. Hati saya juga terasa berbeda. Walaupun tidak berpuasa, namun kerap kali saya senang melihat ada ibadah yang berjalan sebulan penuh. Menikmati kebersamaan berbuka puasa ramai-ramai. Menikmati hari-hari yang lengang dan tidak banyak celoteh di sekeliling. Menjadi penonton saja, cukup.

Tapi, sekarang..sudah H-2 menjelang Hari Raya Idul Fitri, dan tidak ada riuh apa pun. Semua berjalan seperti hari-hari biasa, tanpa bungkus ketupat yang bertebaran..tanpa kesibukan memasak opor..tanpa tenda-tenda yang dipasang untuk Sholat Ied.

Hati saya sedikit memberontak. Perubahan ternyata bisa menghilangkan "sesuatu"..

0 winds from friends and strangers:

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates