Menapak Tanah.


Ada sebuah celetukan ringan yang saya lontarkan saat sedang berdesak-desakkan di pintu keluar/masuk Raffles City Mall, saat National Day Parade kemarin (070808).

"Gila, hari ini semua penduduk Singapore menapak di tanah.."

Celetukan ringan dan spontan yang begitu saja keluar dari mulut saya, dan langsung diamini oleh semua teman-teman saya, dibumbui dengan senyuman geli campur miris dan sinis. Geli karena mungkin mereka kemudian berpikir hal yang sama, miris karena kami terjebak di antara ratusan ribu gelombang manusia yang baru keluar dari stadion menuju satu titik yang sama, stasiun MRT City Hall, dan sinis karena selama ini sejumlah penduduk ini disembunyikan di gedung bertingkat banyak dan dijauhkan dari tanah.

Jumlah penduduk Singapur itu luar biasa banyak, namun tidak pernah terasa karena Singapore didirikan dengan sistem lapis banyak. Manusia disebar ke semua lapis, lapis bawah tanah maupun lapis pencakar langit. Transportasi umum pun diatur sesering mungkin (kalau pagi, MRT datang setiap 2 menit sekali di setiap jalur..bayangkan ada berapa banyak kereta, dikalikan jumlah gerbong, dikalikan jumlah manusia di dalamnya..itulah jumlah pergerakan manusia setiap paginya), sehingga manusia tidak sempat menumpuk di setiap titik.

Saya terkaget-kaget melihat jutaan kaki manusia bergerak serempak dengan langkah-langkah sempit karena harus mengantri berdesak-desakkan saat NDP kemarin. Semuanya mengenakan baju berwarna merah, sampai-sampai mata saya sakit. Semuanya sibuk berbicara satu sama lain di antara desakan-desakan itu, semuanya menempel dengan orang di depannya supaya tidak disalip. Saya dan teman-teman memilih untuk minggir dan menyaksikan atraksi desak-desakkan panjang yang bahkan membuat bulu kuduk merinding saat akan memotong dan melawan arus manusia tersebut.

Penduduk Singapur banyak, tetapi kenapa semua penduduknya bisa bekerja dan hidup dengan layak? Lapangan pekerjaan berlebihan, sehingga tenaga kerja asing pun turut kebagian jatah pekerjaan.
Ada selorohan ringan dari kami perihal jawaban pertanyaan tersebut (jawaban kali ini berkaitan dengan bidang pekerjaan arsitektur).
"Pemerintah Singapur nih pinter banget ya, sengaja bikin banyak departemen supaya penduduknya bisa dapet kerjaan. Masa mau ngebangun aja musti submit ke belasan departemen. Ada URA lah, ada LTA lah, ada NPARKS lah..macem-macem aja. Padahal kalo dipikir-pikir itu nggak guna banget, ngabisin waktu submission aja."
Memang benar kalau mau dipikirkan secara logis. Kenapa departemen jalan (LTA = Land and Transport Authority) harus dipisahkan dari parkir dan pertamanan (NPARKS)?
Jawaban pendeknya : karena penduduk Singapur butuh banyak lapangan pekerjaan, sehingga pemerintahnya menciptakan (dengan kreatifnya) banyak departemen-departemen untuk menampung tenaga kerja siap pakai.

Dan kemanakah perginya manusia-manusia itu sehingga kota Singapore tidak terlihat padat manusia?
Jawabannya : Manusia-manusia itu disimpan di lemari raksasa, berupa mall bertingkat banyak, HDB (sebutan rusun di Singapur), flat, apartemen, gedung-gedung perkantoran, dan stasiun-stasiun MRT bawah tanah (bahkan Stasiun Dhoby Ghaut mencapai kedalaman hingga 5-6 lantai, ke dalam tanah). Semua cara dioptimalkan demi pencapaian ruang yang luas dan memadai, khususnya pengoptimalan secara vertikal mengingat lahan horizontal yang sangat minim.

Menggelikan ya, memikirkan keberadaan manusia di Singapur ini dianggap seperti barang yang bisa disimpan secara vertikal dan tidak menapak tanah. Kalau malam, kami seperti lebah-lebah yang tidur di sarangnya (sarang vertikal) dan setiap pagi mengakses lift untuk turun ke tanah.

Tanah jadi hal yang mahal di negara ini. Di Indonesia saja masih banyak lahan kosong, bahkan dipakai untuk lahan penguburan mayat secara horizontal. Betapa kita harus berbangga pada Republik Indonesia dan semua kekayaan alamnya. Yang dibutuhkan adalah optimalisasi usaha menuju kata "maju" dan efisiensi (maupun akurasi) setiap usaha dan sistem yang diterapkan. Yang tidak menapak tanah saja bisa. Masa kita, sebagai bangsa yang bahkan masih memiliki ribuan hektar tanah/lahan kosong, tidak mampu?

0 winds from friends and strangers:

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates