rasisme

tinggal di negeri lain selain republik indonesia membuat saya berpikir, betapa homogennya masyarakat indonesia (dalam hal ras)..namun betapa kayanya bangsa kita akan suku. jika tinggal di sebuah kota atau daerah, maka yang akan kita temui adalah masyarakat dengan gaya hidup tertentu dan memakai bahasa tertentu, akan sangat jarang ditemui perbedaan mencolok dalam sebuah komunitas. saya pernah tinggal di beberapa kota di indonesia, dan memang hal semacam itu yang saya lihat.. saat tinggal di pulau sambu (sebuah pulau di kepulauan riau), maka yang ada di pulau itu adalah orang-orang yang sudah berakulturasi dengan budaya setempat dan bergaya hidup seperti masyarakat lokal. begitu juga saat saya pindah ke bandar lampung, palembang, dan jakarta. walaupun tidak meninggalkan suku asal, namun sebagian besar diri kita akan berubah menyesuaikan dengan keadaan tempat tinggal kita. menjadi penduduk palembang, maka saya berbahasa dan berlogat palembang. menjadi penduduk lampung, maka saya berbahasa dan berlogat lampung..semuanya terjadi dengan alami sesuai dengan kebutuhan saya sebagai orang yang butuh bersosialisasi.

ketika saya pindah ke singapur, saya mau tidak mau harus berbahasa inggris..walaupun saya akan menolak untuk berlogat singlish. namun, ketika saya bertinggal di negara ini, saya melihat begitu banyak ras bercampur menjadi satu..bersinggungan satu sama lain, dan hidup dalam dimensi yang sama. mereka semua terlihat "sama". namun sebenarnya, sama sekali tidak "sama".

karena tingginya tingkat heterogenitas di singapur, menjadikan masyarakat saling membedakan berdasarkan ras. kebanyakan penduduk singapur yang kebanyakan adalah chinese, menganggap kaum melayu dan india lebih rendah (hal ini disampaikan dengan obyektif). kaum melayu menganggap kaum india harus dihindari. isu rasisme ini terlalu sering ditutupi, padahal seringkali saya melihat dengan mata saya sendiri bagaimana ibu-ibu chinese memandang sinis kepada anak india.

sebenarnya hal semacam ini juga terjadi di indonesia, yaitu bagaimana penduduk pribumi melakukan tindakan rasis terhadap warga negara indonesia yang notabene adalah keturunan cina.

sebuah obrolan singkat di sesi makan siang saya hari ini, begitu menegaskan garis pembatas ras di antara penduduk singapur.
seorang teman saya sedang bicara masalah perjalanannya ke bali, dan bagaimana di bali kita bisa melihat wanita mandi di sungai tanpa busana. lalu, seorang yang lain (yaitu warga negara malaysia, keturunan chinese) ikut menimpali dengan cerita yang hampir mirip yaitu di jepang pun ada budaya mandi tanpa busana. lalu, teman saya yang lain (juga warga negara malaysia, keturunan chinese) langsung menyambar menanggapi obrolan itu, "well, of course japanese woman is more interesting than..", dia tidak melanjutkan kata-katanya..sepertinya dia sadar kalau saya adalah orang indonesia yang tidak memiliki darah keturunan chinese (perlu diketahui, teman-teman indonesia di kantor saya kebanyakan memiliki darah keturunan chinese)..saya tahu kalau dari ujung matanya dia melihat ke arah saya.
lalu, teman saya melanjutkan "hmmm..more interesting than.." dia masih menggantungkan kalimatnya.."than local people, right?".
hmm..okay. local people means melayu = orang lokal indonesia.

saya malas mendengarkan pembicaraan itu. ini sudah kali kedua saya mendengarkan pembicaraan rasis saat makan siang. dulu, pernah suatu kali dia mengucapkan kalimat yang menurut saya tidak sepantasnya diucapkan oleh orang yang berintelektual di depan umum. dan sejak saat itu, saya mulai mengubah pandangan saya tentang isu rasisme di singapur. ternyata kaum melayu (termasuk indonesia) dianggap masyarakat kelas dua yang tidak sederajat dengan kaum berkulit kuning di negara ini. padahal, negara singapur dibangun dengan menggunakan bahasa indonesia (saya mendengar cerita dari teman saya yang datang ke NDP; National Day Parade, sebuah rentetan acara merayakan kemerdekaan singapur; bahwa orang singapur masih menggunakan bahasa indonesia dalam upacara).

kenapa sih justru di negara modern yang masyarakatnya sudah berpikiran terbuka ini dan sangat heterogen masih memiliki pandangan yang sangat sempit?

kita, sebagai orang indonesia, juga harus berhenti membedakan orang berdasarkan ras atau suku, khususnya di negara kita sendiri. karena ketika kiita diperlakukan "berbeda" di negara orang lain, harga diri kita sebagai manusia diinjak-injak. toh, apa bedanya orang indonesia dan orang singapur? apa bedanya orang malaysia dan orang india? sama saja bukan? yang membedakan adalah warna kulit dan kultur. sisanya, kita semua sama. manusia biasa.

sejauh ini, hati saya masih sakit.

1 winds from friends and strangers:

novel. said...

satu lagi ke-rasisan terjadi di kantor gue.

hari ini,,makan siang bareng. salah satu temen gue cerita ttg obrolan dia sama bosnya. dia bikin surat (atau sesuatu yang gue juga ga tau pasti apaan), dan dia konsultasi ke bos sebelom dikirim. trus si bosnya bilang "hhh,,this is too busy. can u simplify this? not because youve became a malay, then these things become complicated too..just like your batik."

WHAT!!!

ngeselin banget ngedengernya. merendahkan bangsa gue. seharusnya dia malu karena negaranya nggak punya kebudayaan yang monumental dan turun temurun kaya batik (dan semua kain-kain adat Indonesia).

*gue jadi ikutan rasis dan merendahkan negara orang gini*

gue sebel. kesel. please deh,,kalo mau komentar tuh nggak usah bawa2 ras, atau kewarganegaraan, atau agama. itu nggak pantes dilontarkan sebagai bagian dari komentar orang berpendidikan (seorang bos lagi).



(menghela napas panjang)

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates