pencerahan.

Minggu kemarin, para dosen Arsitektur UI merambah ke Singapore..berjalan-jalan dengan tujuan berbeda-beda di negeri kecil ini..ada yang melepas penat, ada yang tujuan pekerjaan, dan ada yang liburan bareng keluarga. Kebetulan yang urusannya lebih santai adalah Pak Rifu, yang dateng bareng sama "pasukan" Pavilion 95-nya : Firman dan ZA. Dan karena justru sering (dan lamanya) ngobrol sama Pak Rifu, jadi gue bisa banyak membuka pikiran tentang dunia kerja di industri arsitektur ini. Status Pak Rifu bisa dibilang double : praktisi dan akademisi, jadi lebih kurang bisa memahami apa yang berkecamuk di pikiran para fresh-graduaters.

Jadi begini loh..
Fresh graduates itu masih cenderung idealis dan "egois" untuk menghadapi dunia kerja yang nantinya bakal diposisikan sebagai "pesuruh" dan "pekerja" desain orang lain. Semuanya masih kepengen jadi yang di depan, "aku"-isme nya masih tinggi, dan keinginan untuk jadi arsitek yang di depan itu masih terus membayang. Karena selama kuliah, apa yang dikerjakan adalah hasil kerja pribadi dan nggak pernah jadi pekerja desain orang lain. Semuanya berkisar antara mempresentasikan ide sendiri, mengembangkan imajinasi sendiri, menuangkan ide sendiri, menentukan konsep sendiri, dan semua hal yang diembel-embeli kata "sendiri". Itulah yang menyebabkan fresh graduates sering terjebak dalam idelisme yang sebenernya belum terbentuk sempurna dan egoisme yang sebenernya muncul tidak pada tempatnya. Dan itu juga gue alami, gue sebagai subjek pelakunya (dulu waktu awal-awal lulus).

Tapi, setelah kerja di Indonesia selama kurang lebih 8 bulan. Gue jadi terbiasa jadi "junior", yang memang bener-bener junior. Gue jadi tersadar, belum waktunya gue jadi front line architect. Harusnya sih malu kalo baru lulus langsung minta yang "macem-macem"..pengen langsung desain lah..pengen langsung kerja di tempat yang bagus dan ga nyentuh gambar kerja lah.. ga suka nge-draft lah..bla bla bla. That's silly. Semuanya musti "MAU"..mau nggak mau..karena kita masih junior dan nggak tau apa-apa. Kemaren pak rifu sempet bilang, "kalian masih mending..begitu lulus langsung megang gambar..saya dulu pertama lulus megangnya kontrak, ngebantuin Pak Abim". Hmm,,well,,Pak Rifu saya juga mau bales "saya dulu juga kok, Pak". Pak Rifu bilang,"kalo kamu mau jadi arsitek beneran, kamu harus ngerti semuanya..". Bener banget itu, kalo jadi arsitek tapi nggak ngerti kontrak atau dokumen-dokumen tender..ya proyek nggak bisa jalan.. Ya ampun,,gue mensyukuri banget apa yang pernah gue dapet di kantor gue dulu.

Sebelum Pak Rifu, Firman, dan ZA pulang..gue sempet nemenin mereka jalan-jalan ke Bishan Library dan Alexandra Link (kebetulan gue emang udah merencanakan dari 2 minggu yang lalu sama Ofi). Jalan kaki dan naik tangganya jauh banget..berkilo-kilo,,dan kami semua saltum..hehe. Gue menikmati ruang, gue menikmati alam, gue menikmati acara berjalan, gue menikmati detail-detail, gue menikmati material, gue menikmati warna, gue menikmati semuanya..arsitektur secara keseluruhan. Arsitektur yang selama di Singapore ini gue hujat dan gue pandang dengan tingkat kesinisan tinggi. Entahlah..gue kurang menikmati urbanisme yang ada di Singapore..gue kurang menikmati ruang-ruang yang tercipta dari bangunan-bangunan metropolitan yang ada di sini..semuanya terasa hambar, semua sama, semua hanya indah dilihat dari luar, pengalaman ruangnya sama..diisi counter-counter pakaian, tas, dan sepatu..tanpa memaknai ruang itu sendiri. Makanya..saat mengalami alexandra link, gue cukup menikmati..walaupun ada titik jenuh waktu berjalan sepanjang 1,6 km di earth trail-nya. Waktu gue jalan sendirian di depan (mendahului yang lain), gue ada di titik jenuh karena pengalaman kurang variatif di earth trail..tiba-tiba Pak Rifu mensejajari langkah saya.
"Capek,vel?".
"Lumayan, Pak. Perjalanannya kayak tanpa akhir..bikin frustasi, Pak." Gue nyengir.
"Ini kan kayak PA 1. Perjalanan kaki yang menyenangkan."
"Ah beda, Pak..ini agak membosankan."
"Ah, siapa bilang..ini kan dianalogikan kayak perjalanan hidup yang panjang dan nggak keliatan ujungnya."
"Kalo hidup kan bisa berenti dan variatif, Pak."
"Loh? Ini juga. Itu kan ada alternatif kamu bisa berenti atau jalan terus, kamu mau duduk-duduk dulu di peristirahatan, atau ngeliat-liat pohon. Sama aja kayak hidup."
Pas dikasih argumen begitu, gue diem aja,,mencerna di dalam hati dan pikiran. Bener juga sih kata-kata Pak Rifu.. Perjalanan hidup masih panjang, pilih mau melaju dan nggak menikmati pelajaran-pelajaran yang tersedia..atau mau eksplorasi semua yang bisa dieksplorasi selagi bisa.

Arsitektur yang ada di pikiran gue masih bercampur aduk. Masih meninggikan egoisme,,tapi mau nggak mau harus belajar menerima kalo idealisme dan impian dirampas sekarang ini.

Obrolan-obrolan pendek dan panjang bersama Pak Rifu cukup ngasih angin segar. Mencerahkan wawasan yang sempet membeku dimakan udara Singapore.

Itu semua pilihan, kalo memang pengen jadi arsitek beneran..harus mau mulai dari bawah..harus mau kenal dokumen dan lepas dari gambar..harus mau tau semuanya.




Comments

Seneng kan cin...dapet kuliah dari pak Rifu :)
kapan kita wisata arsitektur lagi?
bikin judul baru yuuks...untuk jalan2 arsitektur kita...
wisata arsitektur kaya wisata kuliner, nggak kreatif :(

misal...
Pleasuring Architecture
--> Plearchitecture
--> Plearch
--> Pleature

ato...
Enjoying Architecture
--> Joyture

ato...
ArchitecTour

ArchiTravTure
(Architecture Travelling & Adventure)

sounds good?

ha ha Ofi so asyik :P
setelah banci nomor, kaya'y gw nambah gelar gw dengan banci nama :P
Anonymous said…
ENGGAK FI! haha. tetep wisata arsitektur.. :D

.novel.

Popular Posts