Hidup di Dalam Gerobak

Ada sebuah pemandangan rutin yang gue liat setiap gue sekeluarga baru pulang beribadah di minggu pagi. Di Jl. M. T. Haryono, ada sebuah keluarga yang sehari-harinya hidup di dalem gerobak, lengkap kayak keluarga pada umumnya terdiri dari bapak, ibu, dan anak-anak.
Sedih rasanya ngeliat mereka, sementara gue duduk aman di dalem mobil, mereka harus naik gerobak yang didorong oleh sang bapak, sebagai kepala keluarga, sementara ibu serta anak-anak ada di atas gerobak. Mereka kumuh banget, kumel, kotor, yah seperti layaknya penampilan gelandangan. Tapi, yang bikin gue terharu adalah mereka adalah sekeluarga gelandangan yang ‘rumahnya’ adalah gerobak. Gue tekankan pada kata keluarga.
Kok mereka bisa ya hidup kayak gitu? Udah jadi garis nasib mereka mungkin, tapi kasian sama anak-anaknya.. nggak bisa nikmatin hidup enak padahal umur mereka masih muda. Kemungkinan masa depan mereka juga nggak bakal jauh-jauh dari jadi gelandangan.. tapi apa mau dikata..
Gue nggak tau mereka ngerasain apa dengan hidup kayak gitu. Mungkin mereka udah bosen meratap karena hidup di bawah garis kemiskinan. Mungkin airmata mereka udah kering karena capek menangisi ’kemiskinan’ mereka. Mungkin mereka sekarang udah pasrah dan ngejalanin hidup ini apa adanya, walaupun harta mereka hanyalah gerobak.. Mungkin mereka nggak peduli mereka nggak bisa jadi apa-apa nantinya.. selama mereka masih bisa bareng-bareng sebagai keluarga..
Gerobak jadi saksi bisu kebersamaan mereka. Walaupun waktu malem mereka kedinginan, tapi mereka bisa sama-sama meringkuk di dalem gerobak dan saling menghangatkan satu sama lain. Walaupun udara siang seringkali panas terik, mereka bisa pindah ke bawah pohon dan berlindung sama-sama. Mereka bisa pergi kemana pun yang mereka pengen tanpa perlu khawatir akan kehilangan rumah mereka, karena gerobak itu dan keluarga akan selalu dibawa kemana pun.
Mungkin kita nggak akan bisa ngebayangin gimana caranya bisa bertahan hidup di dalem gerobak.. tapi mereka bisa.. Antara terharu dan malu. Terharu karena mereka adalah contoh gamblang salah satu kehidupan berkeluarga yang juga ciptaan Tuhan di dunia ini, tapi mereka hidup amat sangat berkekurangan.. bahkan nggak punya tempat berteduh permanen.. bahkan sang ibu melahirkan anaknya di semak-semak.. mereka adalah gelandangan yang berada di bawah langit yang sama dengan kita. Dan malu karena gue begitu banyak mengeluh dan nggak berterimakasih akan apa yang gue miliki, padahal gue punya ’lebih dari cukup’ dibandingkan dengan mereka..

0 winds from friends and strangers:

a little wind

My photo
i bake my own bread for breakfast, i craft everything i could think of, i watch arsenal, i dream of alaska, and i befriend old cameras. my world rotates on september.

inspiration.

 

subscribe for my updates